Cara Mengurangi Pemborosan dalam Kehidupan Sehari-hari

  • 31 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Pemborosan dalam kehidupan sehari-hari kerap terjadi tanpa kita sadari, seperti membeli barang yang tidak diperlukan, menggunakan makanan secara berlebihan, hingga membuang bahan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Kebiasaan yang sederhana itu jika dilakukan secara berkelanjutan tidak hanya meningkatkan pengeluaran, tetapi juga menciptakan lebih banyak limbah.

Dilansir dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) makanan yang terbuang juga berarti menyia-nyiakan sumber daya yang digunakan dalam proses produksinya, seperti air, energi, lahan, tenaga kerja, waktu, dan biaya. Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah merencanakan kebutuhan sebelum melakukan pembelian.

Susun daftar barang yang sangat diperlukan dan periksa terlebih dahulu persediaan di rumah. Untuk memenuhi kebutuhan makanan, FAO merekomendasikan untuk menyusun rencana menu dan daftar belanja agar masyarakat tidak membeli bahan pangan secara berlebihan.

Kebiasaan ini dapat membantu mencegah pembelian yang tidak direncanakan dan menjadikan pengeluaran rumah tangga lebih teratur. Pemborosan makanan bisa diminimalkan dengan memasak sesuai dengan permintaan.

Hindari memasak dalam jumlah berlebihan jika anggota keluarga hanya sedikit. Jika ada sisa makanan, simpan dengan cara yang benar dan gunakan kembali untuk hidangan selanjutnya. FAO juga merekomendasikan penerapan prinsip first in, first out (FIFO), yaitu memanfaatkan bahan makanan yang dibeli lebih awal sebelum menggunakan stok yang baru dibeli.

Metode ini dapat membantu menghindari kerusakan makanan sebelum sempat dimakan.

Selain makanan, perhatian juga harus diberikan pada penggunaan barang sehari-hari. Sebelum melakukan pembelian, pikirkan apakah barang itu benar-benar diperlukan dan seberapa sering akan dimanfaatkan.

Barang yang masih dapat digunakan sebaiknya tidak segera dibuang, melainkan bisa dimanfaatkan kembali, diperbaiki, diserahkan kepada orang lain, atau didonasikan. Di sisi lain, sisa makanan yang tak bisa dimakan dan layak untuk dikomposkan dapat diolah menjadi kompos agar tidak sepenuhnya berakhir sebagai limbah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....