Daya Beli Masyarakat Menurun Akibat Pelemahan Nilai Rupiah
- 08 Okt 2025 08:28 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Tanjungpinang: Seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, daya beli masyarakat Indonesia juga mengalami penurunan yang signifikan. Pelemahan rupiah yang terjadi selama beberapa bulan terakhir telah memberikan dampak negatif bagi perekonomian domestik, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah.
Puluhan tahun lalu, rupiah merupakan salah satu mata uang yang stabil di kawasan Asia. Namun, belakangan ini rupiah telah mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Sejak awal tahun 2025, rupiah terus mengalami tekanan akibat faktor-faktor, seperti, meningkatnya suku bunga global, ketidakpastian pasar keuangan global, dan juga faktor-faktor domestik, seperti defisit anggaran dan defisit neraca perdagangan.
Salah satu Pendengar Siaran Opini Publik Pro 1, Kasim, di jalan Bali, Kota Tanjungpinang, menyampaikan bahwa daya beli masyarakat menurun akibat nilai mata uang rupiah yang semakin melemah dari tahun ke tahun. Sehingga tidak dapat bersaing dengan negara - negara tetangga, seperti, Singapura dan Malaysia.
“Ini bukan masalah harga barang, pangan dan sayur yang meninggi tapi ini akibat nilai mata uang rupiah yang semakin turun,” kata Kasim, Rabu (8/10/2025).
Melansir dari https://www.idscore.id/articles/dampak-pelemahan-rupiah-terhadap-inflasi-dan-daya-beli-masyarakat, pelemahan rupiah terjadi karena kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Secara eksternal, penguatan dolar AS, didorong kenaikan suku bunga. The Fed dan gejolak pasar global mendorong arus modal keluar dari aset berdenominasi rupiah.
Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan yang kronis, kebijakan fiskal yang ekspansif, serta ketidakpastian politik menurunkan kepercayaan investor dan meningkatkan permintaan devisa. Dampak dari pelemahan rupiah ini dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia. Harga-harga kebutuhan pokok, seperti, beras, minyak goreng, dan sembako lainnya mulai naik secara signifikan.
Para ekonom pun menilai bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini bisa memicu ketidakstabilan ekonomi domestik. Jika tidak segera diantisipasi, kemungkinan terjadinya inflasi yang merajalela dan penurunan daya beli masyarakat secara signifikan sangat mungkin terjadi.
Pemerintah sendiri telah mencoba melakukan berbagai langkah untuk mengatasi pelemahan rupiah, antara lain, dengan menaikkan suku bunga acuan, melakukan intervensi pasar, dan melakukan berbagai kebijakan lainnya. Namun, upaya-upaya tersebut belum mampu memberikan hasil yang signifikan dalam menguatkan nilai tukar rupiah.
Selain upaya dari pemerintah, para pelaku ekonomi dan masyarakat juga perlu bersama-sama bekerja sama untuk menanggulangi dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah ini, agar daya beli masyarakat bisa kembali pulih dan ekonomi Indonesia bisa kembali stabil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....