Rumput Laut Sebagai Komoditas Unggulan Sektor Kelautan

  • 02 Mar 2026 08:36 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID,Tanjungpinang – Rumput laut bisa dikatakan sebagai salah satu sumber makanan yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan orang. Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan sektor kelautan Indonesia sebagai negara dengan wilayah laut sebesar 70 hinga 75 persen.

Organisme laut yang satu ini memang bernutrisi tinggi, seperti kaya akan yodium, zat besi, serat yang bertindak sebagai produsen primer. Rumput laut juga efektif menyerap karbon dioksida serta menghasilkan oksigen bagi ekosistem laut.

Selain menjadi bahan baku industri pangan dan kosmetik, tanaman laut ini juga dinilai berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Hal tersebut tentu menjadi penting bagi Indonesia dengan garis pantai yang luas dan perairan tropis yang ideal untuk budidaya rumput laut.

Berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Bali, budidaya rumput laut menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa produksi rumput laut nasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh tingginya permintaan pasar global.

Metode penanaman yang relatif sederhana dan modal yang terjangkau membuat komoditas ini diminati oleh nelayan dan petani tambak. Selain dijual dalam bentuk kering, rumput laut juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti agar-agar, karaginan, hingga bahan campuran es krim dan produk farmasi.

Tanaman ini memang terkategori cukup mudah dibudidayakan tanpa air tawar atau pupuk, bertekstur jeli (mengandung fikokoloid) dan tumbuh sangat cepat. Akan tetapi bukan berarti para petani rumput laut tidak memiliki tantangan, hal-hal seperti fluktuasi harga, perubahan iklim, hingga serangan hama dan penyakit tanaman harus terus dihadapi.

Kualitas pasca panen juga menjadi hal yang sangat penting diperhatian agar produk Indonesia mampu bersaing di pasar global. Pemerintah pun mendorong peningkatan kualitas melalui pelatihan, bantuan bibit unggul, serta pengembangan industri hilir agar nilai tambah tidak hanya dinikmati pasar luar negeri.

Rekomendasi Berita