Mengubah Kebiasaan Buruk Anak Butuh Konsistensi dan Keteladanan
- 26 Mei 2026 17:17 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Kebiasaan buruk pada anak seperti tantrum berlebihan, sulit disiplin, kecanduan gawai, berkata kasar, hingga malas belajar kerap menjadi tantangan bagi para orang tua. Namun, kebiasaan tersebut tidak dapat diubah secara instan, melainkan membutuhkan proses, pendekatan yang tepat, serta konsistensi dalam pola pengasuhan.
Psikolog Klinis, Nurul Hasanah mengatakan, perilaku anak pada dasarnya terbentuk dari lingkungan terdekatnya, terutama keluarga. Karena itu, orang tua memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan positif anak sejak dini.
Menurut Nurul Hasanah, banyak orang tua yang ingin anak berubah cepat, tetapi lupa bahwa anak belajar melalui contoh yang mereka lihat setiap hari. Ia menilai, keteladanan menjadi langkah paling penting dalam memperbaiki perilaku anak.
“Anak itu peniru ulung. Ketika orang tua ingin anak disiplin, sopan, atau tidak bermain gawai berlebihan, maka orang tua juga harus menunjukkan perilaku yang sama di rumah,” kata Nurul Hasanah, Selasa 26 Mei 2026.

Ia menjelaskan, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orang tua adalah memberikan hukuman secara emosional ketika anak melakukan kesalahan. Padahal, pendekatan yang terlalu keras justru dapat membuat anak menjadi takut, tertutup, atau bahkan semakin memberontak.
Nurul menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Anak perlu diberikan pemahaman mengenai alasan suatu perilaku dianggap tidak baik, bukan hanya dimarahi atau dilarang.
“Daripada terus membentak, lebih baik ajak anak berdiskusi dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai usianya. Anak akan lebih mudah menerima arahan ketika merasa didengar,” terangnya.
Selain itu, ia juga menyarankan agar orang tua memberikan apresiasi terhadap perubahan kecil yang dilakukan anak. Bentuk penghargaan sederhana seperti pujian dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri dan memotivasi anak untuk mempertahankan perilaku baik.
Dalam menghadapi kebiasaan buruk anak, Nurul mengingatkan agar orang tua tidak membandingkan anak dengan saudara maupun teman sebayanya. Perbandingan dinilai dapat memicu tekanan psikologis dan membuat anak merasa tidak dihargai.
Ia menambahkan, perubahan perilaku membutuhkan waktu dan proses yang berbeda pada setiap anak. Karena itu, kesabaran dan konsistensi menjadi kunci utama dalam mendidik anak.
“Fokuslah pada proses, bukan hasil instan. Ketika lingkungan rumah mendukung dan orang tua konsisten, perlahan kebiasaan buruk anak bisa berubah menjadi perilaku yang lebih positif,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....