Ketupat dalam Perspektif Sejarah Dakwah Islam di Nusantara
- 20 Mar 2026 06:22 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Ketupat tidak hanya dikenal sebagai sajian tradisional khas Lebaran, tetapi juga memiliki jejak sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara. Tradisi ini menjadi contoh bagaimana dakwah disampaikan melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dilansir dari NU Online, sejarah tradisi ketupat memiliki keterkaitan erat dengan dakwah Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa. Tradisi ini tidak hanya menghadirkan hidangan khas saat Lebaran, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai syukur, sedekah, serta mempererat silaturahmi setelah Idulfitri.
Dalam sejarah Wali Songo, pendekatan dakwah yang digunakan cenderung adaptif terhadap kearifan lokal. Para ulama tidak menghapus tradisi yang ada, melainkan memberi makna baru yang selaras dengan ajaran Islam.
Metode dakwah berbasis budaya ini menjadikan ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat. Identitas lokal tetap terjaga, sementara nilai-nilai Islam dapat tersampaikan secara halus dan mendalam.
Salah satu konsep penting dalam tradisi ketupat yang juga dikenal sebagai kupatan adalah filosofi “laku papat” yang berkembang dalam budaya Jawa. Laku papat merujuk pada empat tahapan spiritual manusia, yaitu lebaran (selesai berpuasa), luberan (berbagi rezeki), leburan (saling memaafkan), dan laburan (kembali suci atau bersih dari dosa).
Filosofi ini menunjukkan bahwa perayaan Idulfitri tidak berhenti pada aspek ritual semata, namun juga pada praktik sosial dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Ketupat kemudian hadir sebagai simbol yang merangkum keempat nilai tersebut dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna.
Bentuk fisik ketupat yang berupa segi empat juga memiliki tafsir filosofis dalam konsep “kiblat papat limo pancer”. Konsep ini menggambarkan empat arah mata angin sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan manusia, dengan satu pusat (pancer) yang merujuk pada Tuhan sebagai sumber segala arah.
Melalui simbol-simbol tersebut, manusia diingatkan untuk tetap berpegang pada nilai-nilai ketuhanan di tengah dinamika kehidupan. Ketupat menjadi representasi bahwa setiap langkah manusia, ke mana pun arahnya, tetap harus terfokus pada pusat spiritual yang sama.
Selain itu, bahan utama pembungkus ketupat, yakni janur, juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Dalam tradisi lisan, janur secara simbolik dimaknai sebagai singkatan dari ungkapan Arab “Ja'a Nur” yang berarti “telah datang cahaya”.
Di sisi lain, dalam khazanah budaya Jawa, janur juga diartikan sebagai “jatining nur” atau cahaya sejati dalam diri manusia. Makna ini memperkuat pesan bahwa setelah menjalani ibadah Ramadan, manusia diharapkan kembali pada fitrahnya sebagai pribadi yang bersih dan tercerahkan.
Keseluruhan simbol dalam tradisi ketupat menunjukkan adanya proses akulturasi yang harmonis antara budaya lokal dan ajaran Islam. Dakwah yang dilakukan para ulama Nusantara tidak bersifat konfrontatif, melainkan dialogis dengan tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Melalui pendekatan ini, Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran normatif, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya yang membumi. Ketupat menjadi bukti bahwa perpaduan antara agama dan budaya dapat melahirkan tradisi yang tidak hanya lestari, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....