Kompetisi Melamun Nasional di Korea Selatan, Unjuk Kebolehan Lepas Stres

  • 29 Sep 2026 08:35 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di tengah tingginya ritme kerja dan kompetisi sosial yang ketat di Korea Selatan, sebuah ajang tahunan unik justru memberikan penghargaan tertinggi bagi mereka yang paling jago tidak melakukan apa-apa. Space-out Competition atau Kompetisi Melamun Nasional rutin digelar di kota Seoul untuk menantang para peserta berdiam diri tanpa terdistraksi selama 90 menit.

Ajang ini pertama kali diciptakan pada tahun 2014 oleh seorang seniman visual asal Korea Selatan yang dikenal dengan nama Woopsyang. Dilaporkan oleh The Guardian, ide kompetisi ini lahir dari kepenatan pribadinya akibat burnout, hingga ia menyadari bahwa membiarkan otak beristirahat tanpa beban pikiran adalah hal yang sangat berharga namun makin sulit dilakukan di era digital.

Aturan dalam kompetisi ini terbilang sangat ketat meski terkesan sederhana. Selama satu setengah jam penuh, para peserta dilarang keras memeriksa ponsel, berbicara, tertawa, tidur, atau bahkan melihat jam tangan. Pemenang ditentukan melalui kombinasi suara penonton dan pengukuran parameter medis, di mana peserta dengan grafik detak jantung paling stabil dan rendah berhak keluar sebagai juara.

Penilaian medis dalam ajang ini didasarkan pada prinsip neurosains mengenai kerja otak. Publikasi dari Harvard Medical School menjelaskan kondisi melamun secara terukur mengaktifkan Default Mode Network (DMN) pada otak. Aktivasi DMN ini terbukti penting untuk membantu pemulihan kognitif, memicu kreativitas, serta menurunkan kadar hormon stres kaskade (cortisol) pada tubuh manusia.

Penyelenggaraan kompetisi ini menjadi satir sosial yang kuat terhadap budaya kerja ekstrem di Korea Selatan. Laporan dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mencatat Korea Selatan konsisten menempati peringkat atas negara dengan jam kerja terpanjang di antara negara-negara anggota OECD, yang berpotensi memicu tingginya angka gangguan kesehatan mental pada usia produktif.

Peminat ajang ini terus membludak setiap tahunnya, mulai dari siswa sekolah, pekerja kantoran dengan setelan jas lengkap, hingga tenaga medis yang sengaja datang untuk melepas penat. Popularitas Space-out Competition kini bahkan telah merambah ke tingkat internasional dan mulai diadopsi di berbagai negara, seperti Tiongkok, Hong Kong, hingga Rotterdam.

Kompetisi melamun ini sukses mengubah pandangan umum bahwa berdiam diri bukanlah bentuk kemalasan yang sia-sia. Di tengah dunia yang menuntut produktivitas tanpa henti, rehat sejenak dan memberi ruang bagi pikiran untuk beristirahat terbukti menjadi kebutuhan krusial bagi kesejahteraan fisik dan mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....