WFH atau Kantor: Mana yang Lebih Produktif?

  • 22 Sep 2026 15:11 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Perdebatan soal kerja dari rumah (work from home/WFH) atau kantor kembali menguat, seiring perusahaan global mengatur ulang kebijakan kerja pascapandemi. Sebagian karyawan merasa lebih produktif di rumah, sementara yang lainnya justru kehilangan fokus karena gangguan domestik yang sulit dikendalikan.

Studi Stanford tahun 2020 menemukan pekerja jarak jauh mengalami peningkatan produktivitas yang didorong oleh berkurangnya waktu perjalanan dan tingginya fleksibilitas kerja. Namun, penelitian yang sama juga mencatat sebagian responden merasa kesepian dan kesulitan memisahkan batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan sehari-hari.

Di sisi lain, kantor menawarkan struktur yang jelas, interaksi langsung, serta kolaborasi spontan yang sering kali sulit digantikan oleh pertemuan virtual. Lingkungan kerja fisik membantu beberapa pekerja menjaga disiplin karena adanya batas ruang yang tegas antara pekerjaan dan rumah.

Laporan Microsoft Work Trend Index menunjukkan model kerja hibrida (hybrid) kini menjadi pilihan dengan menggabungkan fleksibilitas rumah dan kolaborasi di kantor. Model ini dinilai mampu menjawab kebutuhan produktivitas sekaligus kesehatan mental, terutama bagi generasi muda yang mengutamakan keseimbangan hidup.

Meski begitu, tidak semua sektor pekerjaan bisa menerapkan WFH penuh, terutama bidang yang membutuhkan kehadiran fisik dan interaksi langsung. Hal ini membuat perusahaan perlu menyesuaikan kebijakan kerja agar tetap adil bagi seluruh karyawan dengan peran yang berbeda-beda.

Pengamat ketenagakerjaan menilai kunci utamanya bukanlah lokasi kerja, melainkan bagaimana perusahaan mengelola target, komunikasi, dan kepercayaan terhadap karyawan. Tanpa sistem yang jelas, baik WFH maupun kerja kantor bisa sama-sama menurunkan produktivitas dan memicu stres berkepanjangan bagi pekerja.

Di Indonesia, tren kembali ke kantor mulai terlihat, meski sebagian perusahaan tetap memberikan opsi kerja fleksibel bagi karyawan tertentu. Kebijakan ini dinilai sebagai jalan tengah agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kenyamanan dan keseimbangan hidup para pekerja modern.

Ke depan, pilihan cara kerja tidak lagi bersifat hitam putih, melainkan berupa kombinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dan strategi bisnis perusahaan. Pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih baik, melainkan bagaimana pekerja dan perusahaan dapat menemukan pola kerja yang paling efektif serta berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....