Hutan Bisa Kolaps jika tanpa Jamur

  • 22 Sep 2026 15:06 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di balik lebatnya hutan, peran jamur ternyata jauh lebih penting dibanding yang selama ini dibayangkan banyak orang. Organisme ini menjadi penghubung utama antara tanah dan tanaman dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan yang kompleks.

Jamur membantu akar tanaman menyerap nutrisi penting, seperti nitrogen dan fosfor, yang tidak mudah diambil langsung dari tanah. Tanpa bantuan ini, banyak tanaman akan kesulitan tumbuh, terutama di lingkungan hutan dengan persaingan tinggi antarspesies.

Hubungan antara jamur dan tanaman dikenal sebagai simbiosis mycorrhiza, yang menguntungkan kedua pihak dalam jangka panjang. Tanaman memberikan karbon hasil fotosintesis, sementara jamur membantu distribusi nutrisi dan air secara lebih efisien ke seluruh sistem akar.

Penelitian dari University of Sheffield menunjukkan sekitar 90% tanaman darat bergantung pada jaringan jamur untuk bertahan hidup. Temuan ini menegaskan jamur bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian inti dari sistem kehidupan di darat.

Selain membantu penyerapan nutrisi, jamur juga berperan dalam mengurai bahan organik menjadi unsur yang bisa digunakan kembali oleh tanaman. Proses ini menjaga siklus alami hutan tetap berjalan, sehingga tanah tetap subur dalam jangka panjang.

Studi dalam jurnal Nature Communications menyebutkan gangguan pada jaringan jamur dapat memicu penurunan kesehatan hutan secara signifikan. Ketika jaringan ini rusak, distribusi nutrisi terganggu dan tanaman menjadi lebih rentan terhadap stres lingkungan yang ekstrem.

Peran jamur sering tidak terlihat karena sebagian besar aktivitasnya terjadi di bawah tanah, yang jarang diamati manusia. Namun, tanpa mereka, hutan bisa kehilangan sistem pendukung utama yang menjaga kehidupan tetap seimbang dan berkelanjutan.

Para ilmuwan kini semakin fokus mempelajari jamur sebagai kunci penting dalam strategi konservasi hutan di masa depan. Memahami peran mereka membuka peluang baru untuk menjaga ekosistem tetap sehat di tengah ancaman perubahan iklim global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....