Memahami Kebiasaan yang Perlu Diwaspadai, ketika Scroll Jadi Pilihan
- 21 Jul 2026 17:50 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Di era digital, menggulir layar atau scroll media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Banyak orang membuka media sosial saat bangun tidur, menunggu kendaraan, beristirahat, hingga sebelum tidur. Awalnya hanya ingin melihat informasi terbaru selama beberapa menit, namun tanpa disadari waktu yang dihabiskan bisa mencapai berjam-jam.
Dikutip dari https://gramedia.id/news/articles/read/lelah-dengan-media-sosial-saatnya-coba-digital-detox, bagi sebagian orang, aktivitas scrolling bukan lagi sekadar mencari informasi atau hiburan. Media sosial kerap menjadi tempat untuk mengalihkan perhatian dari rasa bosan, stres, kesepian, atau tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi masalah, seseorang mungkin memilih membuka media sosial daripada mencari solusi atau berbicara dengan orang terdekat.
| Baca juga: Kebiasaan Kecil yang Membawa Perubahan Besar |
Tidak ada yang salah dengan menikmati media sosial sebagai sarana hiburan. Namun, ketika scrolling menjadi pelarian utama setiap kali muncul emosi negatif, kebiasaan tersebut perlu diwaspadai. Alih-alih menyelesaikan persoalan, seseorang justru hanya menunda untuk menghadapinya sehingga masalah yang ada tetap belum terselesaikan.
Kebiasaan scrolling yang berlebihan juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Paparan informasi yang terus-menerus, perbandingan dengan kehidupan orang lain, serta derasnya konten yang silih berganti dapat menimbulkan rasa cemas, lelah secara emosional, bahkan menurunkan rasa percaya diri. Kondisi ini semakin terasa jika seseorang sulit melepaskan diri dari layar meski tidak lagi menikmati konten yang dilihat.
Selain berdampak pada kesehatan mental, waktu yang terlalu banyak dihabiskan di media sosial juga dapat mengurangi produktivitas. Pekerjaan menjadi tertunda, waktu belajar berkurang, kualitas tidur menurun, hingga kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman menjadi semakin sedikit. Padahal, hubungan sosial yang nyata memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan emosi.
Salah satu cara untuk mengatasi kebiasaan ini adalah dengan menyadari alasan di balik keinginan membuka media sosial. Saat muncul dorongan untuk scrolling, cobalah bertanya kepada diri sendiri, apakah benar sedang membutuhkan informasi atau hanya ingin menghindari rasa tidak nyaman. Kesadaran sederhana ini dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih bijak.
Masyarakat juga dapat menerapkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seperti menetapkan batas waktu penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, menyediakan waktu tanpa gawai setiap hari, serta mengganti kebiasaan scrolling dengan aktivitas yang lebih bermanfaat seperti membaca, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau menekuni hobi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....