Hari Buku Nasional dan Tantangan Literasi di Era Digital
- 16 Mei 2026 14:23 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di tengah derasnya arus informasi digital yang bergerak serba cepat, Hari Buku Nasional kembali diperingati setiap 17 Mei sebagai pengingat pentingnya budaya membaca bagi masyarakat Indonesia. Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan literasi, tetapi juga ajakan untuk kembali menjadikan buku sebagai sumber pengetahuan dan ruang refleksi di tengah kebiasaan konsumsi informasi singkat.
Dilansir dari laman Perpustakaan Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Hari Buku Nasional pertama kali dicetuskan oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, pada tahun 2002. Penetapan tanggal 17 Mei dipilih bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980.
Pemilihan tanggal tersebut memiliki makna simbolis yang kuat karena perpustakaan dianggap sebagai jantung literasi dan sumber ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Kehadiran perpustakaan diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang terbuka dan mudah diakses oleh seluruh kalangan.
| Baca juga: Pentingnya Kehadiran Ayah dalam Pola Asuh |
Lahirnya Hari Buku Nasional juga dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia pada masa itu. Pemerintah menilai budaya membaca perlu terus diperkuat agar masyarakat memiliki kemampuan literasi yang lebih baik di tengah perkembangan zaman.
Data UNESCO menunjukkan tingkat melek huruf penduduk dewasa Indonesia pada tahun 2002 berada di angka 87,9 persen. Angka tersebut masih berada di bawah beberapa negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand, sehingga mendorong lahirnya gerakan peningkatan budaya baca di Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, Abdul Malik Fadjar, menggagas Hari Buku Nasional sebagai pemicu kesadaran kolektif mengenai pentingnya membaca. Melalui momentum ini, pemerintah, sekolah, komunitas, hingga keluarga diharapkan lebih aktif menumbuhkan budaya literasi di lingkungan masing-masing.
Di era digital saat ini, tantangan literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menyaring dan memahami informasi secara kritis. Kebiasaan membaca mendalam perlahan mulai tergeser oleh konsumsi konten singkat di media sosial, sehingga masyarakat perlu membangun kembali budaya membaca agar tidak mudah terjebak informasi keliru maupun hoaks.
Peringatan Hari Buku Nasional 2026 juga menjadi momentum untuk mengajak generasi muda kembali dekat dengan buku dan perpustakaan. Buku tidak hanya menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga jendela untuk memahami sejarah, budaya, serta perkembangan dunia.
Hari Buku Nasional bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan pengingat bahwa kemajuan bangsa berawal dari masyarakat yang gemar membaca dan terus belajar. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, buku tetap menjadi ruang penting untuk menumbuhkan cara berpikir kritis, memperluas wawasan, dan menjaga kualitas generasi masa depan Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....