Melatih Fokus di tengah Banjir Konten Pendek
- 15 Mei 2026 17:07 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di tengah arus konten digital yang bergerak cepat, kemampuan manusia untuk fokus kini menghadapi tantangan yang semakin besar. Banyak orang terbiasa berpindah perhatian hanya dalam hitungan detik akibat terus-menerus menerima informasi singkat dari layar ponsel.
Psikolog sosial Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation menilai paparan layar dan media sosial berlebihan dapat memengaruhi fokus, kualitas interaksi sosial, hingga kesehatan mental masyarakat modern. Ia juga menyoroti bagaimana manusia semakin terbiasa dengan stimulasi cepat dari dunia digital sehingga lebih sulit mempertahankan konsentrasi dalam aktivitas yang membutuhkan fokus mendalam.
Fenomena banjir konten pendek secara perlahan ikut mengikis attention span atau rentang perhatian masyarakat, terutama generasi muda yang akrab dengan video singkat dan perpindahan layar yang cepat. Akibatnya, banyak orang merasa mudah bosan ketika harus membaca tulisan panjang, belajar dalam waktu lama, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa membuka media sosial.
Kebiasaan mengonsumsi konten singkat tanpa jeda juga berisiko memicu fenomena brain rot, yaitu kondisi ketika otak terasa lelah akibat terlalu banyak menerima informasi dangkal secara terus-menerus. Kondisi tersebut membuat pikiran lebih sulit tenang dan cenderung terus mencari rangsangan baru dari dunia digital.
Di tengah penurunan daya konsentrasi tersebut, melatih fokus perlahan menjadi keterampilan penting yang perlu dibiasakan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Fokus bukan hanya berkaitan dengan produktivitas, tetapi juga kemampuan manusia untuk hadir secara utuh dalam aktivitas yang sedang dijalani.
Salah satu cara sederhana melatih konsentrasi adalah membatasi distraksi digital saat melakukan pekerjaan tertentu. Menaruh ponsel lebih jauh atau mematikan notifikasi sejenak dapat membantu otak bekerja lebih tenang tanpa terus-menerus terpecah oleh rangsangan layar.
Membiasakan diri membaca buku atau artikel panjang secara bertahap juga dapat membantu melatih ketahanan fokus. Aktivitas membaca membuat otak belajar bertahan pada satu alur pemikiran sehingga kemampuan konsentrasi dapat terbangun kembali secara perlahan.
Selain itu, menyediakan waktu tanpa gawai dalam beberapa momen sehari-hari juga penting dilakukan. Berjalan santai, menikmati suasana sekitar, atau berbincang tanpa memeriksa ponsel dapat membantu pikiran beristirahat dari banjir informasi digital.
Kualitas tidur yang cukup, olahraga ringan, dan pola hidup yang lebih teratur turut berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi lelah akibat paparan layar berlebihan, kemampuan fokus biasanya ikut menurun.
Pada akhirnya, menjaga konsentrasi di era digital bukan berarti harus menjauhi teknologi sepenuhnya. Di tengah banjir konten pendek yang terus bersaing merebut perhatian, kemampuan untuk tetap fokus, tenang, dan menikmati proses secara utuh justru menjadi keterampilan yang semakin penting bagi manusia modern.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....