Relevansi Ajaran Ki Hadjar Dewantara di Era Kecerdasan Buatan

  • 02 Mei 2026 08:55 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan yang mampu mengolah informasi dalam hitungan detik, dunia pendidikan dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang makna kecerdasan itu sendiri. Ketika mesin semakin unggul dalam logika dan kecepatan, nilai-nilai karakter justru menjadi pembeda utama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

Semboyan dari Ki Hadjar Dewantara, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, mengandung makna bahwa seorang pendidik harus memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang. Filosofi ini menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dalam proses tumbuh kembang peserta didik.

Di era kecerdasan buatan, peran guru mengalami pergeseran dari sumber utama informasi menjadi fasilitator pembelajaran. Meski teknologi mampu menyediakan jawaban secara instan, kehadiran guru tetap dibutuhkan untuk memberikan arah, makna, dan nilai dalam proses belajar.

Studi dalam Jurnal Ilmu Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Budaya (MORFOLOGI) menyebutkan bahwa pembelajaran abad ke-21 telah bergeser dari pendekatan yang berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Pendekatan ini mendorong peserta didik untuk lebih aktif, mandiri, serta mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai tantangan.

Di sisi lain, kecerdasan buatan menawarkan kecepatan dan efisiensi dalam mengolah informasi, namun tidak memiliki empati, etika, maupun kesadaran moral. Di sinilah ajaran Ki Hadjar Dewantara, menemukan relevansinya sebagai penyeimbang, bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya membentuk individu cerdas, tetapi juga manusia yang berkarakter.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara menempatkan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam proses pendidikan, tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual semata. Hal ini menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh menggeser esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia.

Dengan demikian, relevansi ajaran Ki Hadjar Dewantara di era kecerdasan buatan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang semakin nyata. Di tengah dominasi teknologi, pendidikan dituntut tidak hanya melahirkan generasi yang mampu bersaing secara intelektual, tetapi juga generasi yang tetap memiliki empati, nilai, dan kesadaran sebagai manusia—sesuatu yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....