Petani Selada Hidroponik Bintan Penuhi Pasar Lokal
- 01 Des 2025 16:18 WIB
- Tanjungpinang
KBRN, Bintan: Seorang petani selada hidroponik di Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan Km 48, membagikan pengalamannya mengembangkan budidaya selada dengan sistem modern yang kini mampu memenuhi kebutuhan pasar di Tanjungpinang dan Bintan. Usaha yang berawal dari hobi kini telah berkembang menjadi produksi komersial dengan menerapkan sistem Nutrient Film Technique (NFT) di dalam greenhouse, Minggu (30/11/2025).
Petani selada hidroponik, Hariyanto mengatakan, bahwa pada tahap awal hidroponik bisa dimulai dengan peralatan sederhana seperti boks sterofoam atau sistem wick. Namun, untuk skala produksi diperlukan instalasi pipa berukuran 2,5 inci dengan jarak tanam tertentu.
“Untuk selada jaraknya 20 kali 20 sentimeter karena pertumbuhannya melebar. Sementara untuk sawi cukup 10 sampai 15 sentimeter,” ujar Hariyanto.
Terkait masa panen, selada hidroponik membutuhkan sekitar 40 hari sejak penyemaian. Rotasi tanam dilakukan melalui tiga tahap, yakni semai, peremajaan, dan dewasa.
“Di meja dewasa 15 hari, peremajaan 15 hari, dan semai sekitar 10 hari. Total 40 hari sudah bisa panen,” ucapnya.
Hasil panen selada Hariyanto dipasarkan ke berbagai pasar di Tanjungpinang dan Bintan, antara lain Pasar Bintan Center, Pasar KUD, Pasar Barek Motor Kijang, Pasar Lama, Pasar Tua, Lagoi, hingga Tanjung Uban. Ia memiliki tujuh pelanggan tetap dengan kebutuhan harian mencapai 70 kilogram.
“Kalau semua ambil, satu orang biasanya 10 kilo. Tapi panen harian bisa berhenti kalau stok sedang kosong,” tuturnya.
Namun, terdapat kendala yang dihadapi, terutama terkait ketersediaan benih. Ia menyebut benih selada berkualitas masih bergantung pada produk impor dari Belanda yang didistribusikan oleh PT Bejo Indonesia di Jember.
Ia menambahkan, belum ada bantuan khusus dari pemerintah untuk budidaya selada hidroponik. Namun ia mengungkapkan rencana kerja sama melalui BUMDes Desa Bintan Buyu, dimana desa tersebut mendapatkan alokasi dana ketahanan pangan sebesar 20 persen dari dana desa untuk pengembangan hidroponik, termasuk rencana budidaya melon hidroponik sebagai wisata petik pada tahun mendatang.
“Kedepannya kita ingin kembangkan hidroponik melon untuk wisata dan mendukung ketahanan pangan,” katanya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....