Gunung Awu Dipantau Empat Kali Sehari
- 13 Jun 2026 22:04 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Tahuna - Pengamat Gunung Api Awu, Didi Bina memastikan pemantauan aktivitas vulkanik terus dilakukan secara intensif sejak status Gunung Awu dinaikkan menjadi Level III (Siaga).
Saat berbincang dengan Pro 1 RRI Tahuna pada Kamis 11 Juni 2026, Didi menjelaskan bahwa frekuensi pelaporan meningkat signifikan dibandingkan ketika gunung masih berada pada Level II (Waspada).
"Kalau sebelumnya laporan hanya dibuat sekali dalam sehari, sekarang dilakukan setiap enam jam. Jadi ada empat kali pembaruan, yaitu pukul 06.00, 12.00, 18.00, dan 24.00," ujarnya.
Menurutnya, hasil pemantauan rutin tersebut disebarluaskan melalui grup WhatsApp yang melibatkan masyarakat, pemerintah kampung, hingga pemerintah daerah. Dengan demikian warga dapat memperoleh perkembangan terbaru mengenai kondisi Gunung Awu dari sumber resmi.
Didi mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Terkait anggapan bahwa turunnya hewan dari lereng gunung menjadi pertanda akan terjadi erupsi, ia menilai hal tersebut belum dapat dijadikan acuan utama.
"Mungkin saja hewan berpindah karena suhu di sekitar kawah meningkat seiring naiknya aktivitas vulkanik. Namun indikator utama yang kami gunakan tetap berdasarkan hasil pemantauan ilmiah," ujarnya.
Ia menjelaskan, tanda yang menjadi perhatian petugas antara lain peningkatan gempa vulkanik hingga munculnya tremor yang menunjukkan aktivitas magma semakin intens.
Selain mengikuti informasi resmi, warga yang tinggal di kawasan rawan bencana diminta menyiapkan perlengkapan darurat sejak dini. Salah satunya dengan menyediakan tas khusus yang berisi dokumen penting, obat-obatan, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya sehingga dapat segera dibawa saat proses evakuasi diperlukan.
Sementara itu Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas III Naha, Ando Prasetyo, mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang apabila merasakan guncangan gempa yang kuat dan berlangsung cukup lama.
Menurut Ando saat berada di dalam bangunan langkah awal yang perlu dilakukan adalah merunduk, melindungi kepala, lalu berlindung di bawah meja yang kokoh sambil berpegangan erat. Jika sedang berada di luar ruangan masyarakat diminta menjauhi gedung, tiang listrik, pohon besar, maupun papan reklame yang berpotensi roboh.
Bagi warga yang bermukim di wilayah pesisir, Ando mengimbau agar segera menuju tempat yang lebih tinggi apabila terdapat potensi tsunami. Ia menegaskan masyarakat tidak perlu menunggu air laut surut sebagai tanda bahaya dan harus selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, pemerintah daerah, maupun instansi terkait lainnya.
"Jika ada peringatan dini tsunami, segera lakukan evakuasi dan jangan kembali ke kawasan pantai sebelum ada pengumuman resmi bahwa kondisi sudah aman," ucap Ando.
Selain ancaman gempa bumi dan tsunami, Kepulauan Sangihe juga menghadapi risiko bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat yang disertai petir, angin kencang, banjir, hingga tanah longsor.
Sebagai daerah kepulauan kondisi cuaca dan gelombang laut sangat memengaruhi aktivitas masyarakatmterutama di sektor perikanan, pelayaran, serta transportasi laut. Karena itu informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG perlu menjadi rujukan utama dalam merencanakan berbagai kegiatan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....