Kejari Minahasa Utara Ingatkan Bahaya Hoaks Digital

  • 20 Mei 2026 01:28 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Manado - Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Minahasa Utara, Shaefi Wirawan Orient, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penyebaran berita bohong atau hoaks yang semakin marak di era digital saat ini.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat informasi palsu sangat mudah tersebar di tengah masyarakat baik melalui tulisan, gambar, video, maupun rekaman suara yang belum tentu sesuai fakta.

“Hoaks merupakan informasi palsu yang sengaja dibuat atau disebarluaskan untuk menyesatkan, menipu, hingga memprovokasi masyarakat sehingga dapat menimbulkan keresahan,” ujarnya, Selasa 19 Mei 2026.

Ia menjelaskan, hoaks memiliki berbagai jenis dan bentuk. Salah satunya adalah hoaks satir atau parodi yang awalnya dibuat sebagai humor, namun kerap disalah artikan sebagai fakta dan akhirnya memicu dampak negatif.

Selain itu terdapat pula misleading content atau konten menyesatkan, yakni informasi yang berasal dari peristiwa nyata tetapi diberikan konteks yang keliru sehingga membentuk opini berbeda dari fakta sebenarnya.

“Informasinya memang benar, tetapi konteksnya dipelintir sehingga mengarah pada hal negatif,” ucapnya.

Jenis lain yang sering ditemukan yakni konten palsu yang sepenuhnya dibuat untuk membingungkan publik, konten manipulatif berupa gambar atau informasi yang telah diedit agar tampak meyakinkan, hingga kesalahan atribusi seperti penggunaan judul dan gambar yang tidak sesuai isi berita.

Shaefi menuturkan, masyarakat perlu memahami ciri-ciri hoaks agar tidak mudah terpengaruh. Salah satu langkah utama yakni memeriksa isi informasi secara menyeluruh sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

“Kita harus melihat apakah informasi tersebut membawa dampak positif atau justru negatif. Setelah itu lakukan verifikasi sumber untuk memastikan berita berasal dari pihak terpercaya,” ujar Shaefi.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan gaya penulisan sebuah informasi, termasuk apakah disusun secara profesional atau terkesan asal-asalan. Selain itu keberadaan bukti pendukung seperti foto maupun data yang valid juga perlu diteliti lebih lanjut.

Dalam kesempatan itu, Shaefi turut menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini dapat menghasilkan gambar maupun konten visual menyerupai kenyataan.

“AI sekarang bisa membuat gambar yang terlihat nyata, padahal sebenarnya tidak pernah terjadi. Karena itu masyarakat harus lebih berhati-hati dan tidak langsung percaya terhadap apa yang dilihat di media sosial,” ucap Shaefi.

Ia berharap masyarakat membiasakan diri melakukan pengecekan ulang terhadap setiap informasi yang diterima agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum terverifikasi kebenarannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....