​Ritual Manduru'u Tonna: Syukur dan Harapan Talaud

  • 06 Feb 2026 14:58 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Pemerintah Daerah bersama tokoh adat dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud menggelar ritual adat Manduruu Tonna di Kompleks Rudis Bupati pada Jumat, 6 Februari 2026. Ritual sakral ini bertujuan mengucap syukur atas berkat tahun sebelumnya sekaligus memohon perlindungan Tuhan untuk tahun yang sedang berjalan.

Tradisi ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tetua adat hingga jajaran pemerintah. Puncak prosesi ditandai dengan pemotongan pua manggorongan (kepala babi) dan ba’aa (ketupat besar) sebagai simbol keberuntungan dan penolak bala bagi warga dari wilayah Tinonda hingga Napombaru.

​Melalui ritual ini, masyarakat diajak melakukan refleksi diri, memperkuat gotong royong, dan memupuk persaudaraan. Bupati Kepulauan Talaud, Welly Titah yang memiliki gelar adat Malambe Liado Ratun Taloda menyatakan bahwa Manduru’u Tonna adalah warisan yang dihidupi lintas generasi.

"Manduru’u Tonna mengajarkan keteraturan hidup, hormat kepada leluhur, kebersamaan, serta tanggung jawab menjaga kehidupan bersama," ujar Bupati.

Pemerintah Daerah menegaskan bahwa

adat sebagai fondasi menjadi penguat pembangunan berkarakter, Kolaborasi adat, gereja, masyarakat, dan pemerintah adalah kunci stabilitas, dan budaya harus dilestarikan dan dijaga sebagai nilai luhur demi kesejahteraan masyarakat Porodisa.

Bupati menutup sambutannya dengan doa agar persatuan semakin kokoh dan Kabupaten Kepulauan Talaud senantiasa diberkati. Dengan terlaksananya ritual ini, diharapkan nilai-nilai luhur tetap terjaga dan daerah dijauhkan dari marabahaya serta dilimpahi hasil bumi.

"Mengajak kita melangkah bersama berdayung seirama sehati dalam satu tujuan saling menjaga dan demi masyarakat yang damai sejahtera. Inilah teladan iman, adat dan persaudaraan yang harus terus kita hidupkan. Hadirin yang saya hormati, sebagai wujud kebersamaan dan tanggung jawab dalam mendukung pembangunan daerah. Mari kita terus bergandeng tangan membangun Tanah Porodisa dengan semangat persaudaraan. Adat adalah akar kehidupan sosial kita. Iman adalah penuntun hidup kita dan pemerintah adalah penggerak pembangunan. Ketiganya harus berjalan seimbang karena dari setiap proses pembangunan tidak hanya pembangunan fisik tetapi membang manusia, nilai dan masa depan," pungkasnya

Wakil Bupati Anisya Gretsya Bambungan, Ketua TP PKK Ny.Henny Titah Hongwijoyo, Dewan Adat dan para pentua adat, DPRD, tokoh agama, stafsus Bupati,  pejabat tinggi pratama bersama jajaran pegawai OPD dan tamu terundang lainnya turut hadir dalam momentum setahun sekali tersebut.

Adapun tema tahun 2026 adalah “Rerro Daraduran Matarrino Henggona Wantambuwunnu Alu Ape Su Ipalembung Ipamanua Su Allo Adantane”, yang bermakna Tuhan adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan sumber berkat sepanjang masa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....