Upacara Adat Tulude Di Sangihe
- 30 Jan 2026 08:51 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Talaud - Sekretaris Dewan Adat Sangihe Deavid Ch. Mansauda mengungkapkan bahwa upacara adat Tulude pertama kali dilaksanakan di wilayah Kedatuan Salurang atau Manuwo yang pada masa itu dipimpin oleh Datu Gumansalangi pendiri Kedatuan Tampungan Lawo. Hal tersebut disampaikannya dalam program acara 'Magota Bacerita' yang disiarkan pada Kamis, 29 Januari 2026 melalui Pro 1 RRI Tahuna dan disiarkan langsung di Pro 4 RRI Manado, Pro 4 RRI Gorontalo, serta Pro 1 RRI Talaud.
Menurut Deavid, Tulude pada awalnya merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat pribadi seorang pria yang memiliki status sebagai sultan. Dari kisah-kisah masa lalu tersebut, masyarakat Sangihe kemudian melaksanakan upacara pengorbanan setiap tahun sebagai bagian dari ritual adat untuk menolak bala. Pada masa awal pengorbanan dilakukan dengan melibatkan manusia tertentu namun seiring perkembangan zaman bentuk pengorbanan tersebut beralih menjadi hewan.
Salah satu bagian terpenting dalam upacara adat Tulude adalah pemotongan Kue Tamo. Kue Tamo merupakan kue sakral yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti beras ketan, pisang raja yang matang di pohon, pepaya matang di pohon, kelapa tua, serta ramuan lainnya berupa beras pulo dan gula merah. Proses pembuatannya memiliki nilai filosofis dan spiritual yang sangat tinggi.
Deavid menjelaskan, keunikan dalam pembuatan Kue Tamo terletak pada adanya aturan kuasa mulut di mana orang yang membuat kue tidak boleh berdiam diri dalam keheningan, namun juga dilarang mengucapkan kata-kata yang tidak baik atau tidak pantas. Secara khusus pembuat kue tidak diperkenankan membicarakan keburukan orang lain atau yang dalam bahasa Sangihe dikenal dengan istilah "basampuhe". Hal ini menegaskan bahwa Kue Tamo tidak dapat dibuat secara sembarangan karena bersifat sakral.
Selain itu tata busana juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan upacara Tulude. Deavid menyampaikan bahwa laki-laki yang hadir diwajibkan mengenakan Paporong sementara perempuan menggunakan sanggul. Namun demikian bagi masyarakat yang tidak menggunakan atribut tersebut tetap diperbolehkan mengikuti upacara dengan ketentuan tidak duduk di bagian depan saat prosesi berlangsung.
Lebih lanjut disampaikan, para tua-tua adat yang dipercaya melaksanakan tugas dalam upacara Tulude tidak diperkenankan menunjukkan kemarahan atau emosi negatif. Masyarakat meyakini bahwa jika terjadi kemarahan di antara para pelaksana adat, maka upacara Tulude tidak akan berjalan dengan baik. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga dan diwariskan oleh masyarakat Sangihe hingga saat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....