Miom Menempel pada Rahim, Kenali Risiko dan Gejalanya

  • 21 Sep 2026 21:57 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud — Mioma uteri atau miom merupakan tumor jinak yang tumbuh dari jaringan otot rahim. Meski bukan kanker, miom perlu diperhatikan karena ukuran, jumlah, dan lokasinya dapat menimbulkan berbagai gangguan pada perempuan.

Kementerian Kesehatan RI melalui RSUP Dr. M. Djamil Padang menjelaskan, miom dapat tumbuh di dalam, pada dinding, maupun di sekitar rahim. Sebagian perempuan tidak mengalami gejala, tetapi pada kondisi tertentu miom dapat menyebabkan menstruasi lebih banyak atau lebih lama, nyeri dan tekanan di area panggul, hingga gangguan pada organ di sekitarnya.

Istilah miom yang “menempel pada rahim” dapat merujuk pada miom yang tumbuh di permukaan luar rahim atau melekat melalui jaringan seperti tangkai. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa lokasi miom turut menentukan keluhan yang mungkin muncul.

Salah satu masalah yang sering terjadi adalah perdarahan menstruasi yang berlebihan atau berkepanjangan. Jika berlangsung terus-menerus, kehilangan darah dapat menyebabkan anemia. Miom juga dapat menimbulkan nyeri atau rasa tertekan pada perut bagian bawah dan panggul.

Ketika ukurannya membesar, miom bisa menekan organ di sekitarnya. Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sering buang air kecil atau sulit menahannya. Dalam beberapa kasus, miom juga dapat berkaitan dengan nyeri saat berhubungan seksual serta gangguan kesuburan.

ACOG mencatat, pada sebagian perempuan, miom dapat berkaitan dengan kesulitan memperoleh kehamilan dan keguguran. Namun, keberadaan miom tidak otomatis menyebabkan infertilitas karena faktor lain tetap perlu diperiksa oleh dokter.

Risiko dan keluhan lebih banyak dipengaruhi ukuran, jumlah, dan lokasi miom, bukan sekadar karena miom berada atau “menempel” pada rahim. Miom kecil yang tidak menimbulkan gejala dapat saja cukup dipantau. Sebaliknya, miom yang menyebabkan perdarahan berat, nyeri panggul, atau tekanan pada organ sekitar membutuhkan evaluasi medis.

Pemeriksaan dokter, termasuk ultrasonografi, dapat membantu mengetahui ukuran dan posisi miom. Hasil pemeriksaan menjadi dasar untuk menentukan apakah kondisi cukup dipantau atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Kementerian Kesehatan RI mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan perdarahan vagina yang sangat banyak atau berkepanjangan, nyeri panggul yang tiba-tiba dan berat, sakit perut terus-menerus hingga mengganggu aktivitas, maupun kesulitan mendapatkan kehamilan. Keluhan tersebut perlu diperiksakan untuk mengetahui penyebabnya.

Penanganan miom tidak selalu harus melalui operasi. Menurut ACOG, pilihan terapi dapat berupa obat untuk mengendalikan perdarahan atau nyeri, tindakan untuk mengecilkan atau menghilangkan miom, hingga operasi tertentu. Penentuan terapi disesuaikan dengan ukuran, lokasi, jumlah miom, gejala, dan rencana kehamilan.

Karena itu, miom pada atau sekitar rahim tidak selalu berbahaya, tetapi juga tidak sebaiknya diabaikan. Pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi penting dilakukan untuk mengetahui kondisi secara tepat dan menentukan penanganan yang sesuai.

Perempuan yang mengalami menstruasi tidak normal, nyeri panggul berulang, perut terasa membesar, atau tekanan pada kandung kemih sebaiknya tidak hanya mengandalkan pengobatan sendiri. Pemeriksaan medis diperlukan agar penyebab keluhan dapat diketahui dan ditangani sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....