Halusinasi Perlu Penanganan Dini agar Tidak Berujung Fatal
- 26 Jun 2026 21:23 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Talaud - Halusinasi merupakan gangguan kesehatan jiwa yang membuat seseorang sulit membedakan kenyataan dengan persepsi yang tidak nyata. Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena berpotensi memicu perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain apabila tidak ditangani dengan tepat.
Kementerian Kesehatan menjelaskan halusinasi dapat menyebabkan seseorang mengalami kepanikan, kehilangan kendali terhadap perilaku, hingga muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain. Dalam sejumlah kasus kondisi tersebut juga dapat disertai delusi yaitu keyakinan yang bertentangan dengan fakta.
Munculnya halusinasi dipengaruhi berbagai faktor baik biologis maupun lingkungan. Selain faktor keturunan dan gangguan pada fungsi otak, pola asuh, tekanan sosial, kondisi ekonomi, serta stres berkepanjangan juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan tersebut.
Halusinasi tidak hanya berkaitan dengan gangguan kejiwaan seperti skizofrenia, psikosis, gangguan bipolar, depresi dengan gejala psikotik, borderline personality disorder (BPD), dan post traumatic stress disorder (PTSD). Kondisi ini juga dapat dipicu oleh penyakit fisik seperti penyakit parkinson, tumor otak, penyakit alzheimer, stroke, epilepsi, migrain, gangguan penglihatan maupun telinga bagian dalam, hingga demam tinggi pada anak dan lansia.
Selain itu penyalahgunaan narkotika, alkohol, cedera kepala, dan gangguan tidur juga diketahui dapat memicu munculnya halusinasi.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa penanganan sedini mungkin sangat penting agar gejala tidak semakin berat. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengenali pengalaman halusinasi tanpa panik, kemudian berusaha mengalihkan fokus melalui latihan pernapasan dan teknik grounding untuk membantu kembali menyadari kondisi di sekitar.
Praktik mindfulness atau kesadaran penuh juga dapat menjadi salah satu cara mengurangi intensitas halusinasi. Aktivitas tersebut sebaiknya disertai pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, mengelola stres, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin melakukan aktivitas relaksasi.
Mencatat perasaan dan pengalaman dalam jurnal juga dapat membantu seseorang memahami pemicu munculnya halusinasi. Namun apabila gejala terus berulang atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, penderita disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk memperoleh penanganan yang sesuai termasuk melalui terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) atau mindfulness based cognitive therapy (MBCT).
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat juga diimbau menghindari konsumsi minuman beralkohol dan penyalahgunaan narkotika karena keduanya dapat meningkatkan risiko terjadinya halusinasi sekaligus memperburuk kondisi kesehatan mental.
Menurut Kementerian Kesehatan dukungan keluarga, lingkungan yang kondusif, serta akses terhadap layanan kesehatan merupakan faktor penting dalam membantu proses pemulihan dan meningkatkan kemampuan pasien mengendalikan halusinasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....