Kenali Penyebab Enuresis, Kondisi Mengompol yang Bisa Dialami Anak

  • 24 Jun 2026 20:28 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud – Enuresis atau mengompol merupakan kondisi ketika seseorang buang air kecil tanpa disadari, terutama saat tidur. Kondisi ini umumnya dialami anak-anak, tetapi dalam beberapa kasus juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Mengutip alodokter.com Rabu, 24 Juni 2026 secara normal, kandung kemih berfungsi menampung urine yang diproduksi ginjal. Saat kandung kemih mulai penuh, saraf di dinding kandung kemih akan mengirim sinyal ke otak. Otak kemudian memberi perintah untuk menahan urine hingga seseorang siap buang air kecil di kamar mandi. Gangguan pada proses tersebut dapat menyebabkan terjadinya enuresis.

Pada anak-anak, enuresis dibedakan menjadi dua jenis, yaitu enuresis primer dan enuresis sekunder. Enuresis primer terjadi ketika anak belum pernah mampu mengontrol buang air kecil sejak kecil. Sementara itu, enuresis sekunder terjadi ketika anak yang sebelumnya sudah tidak mengompol selama enam bulan atau lebih kembali mengalami kebiasaan tersebut.

Enuresis primer dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti ukuran kandung kemih yang masih kecil, perkembangan saraf kandung kemih yang belum sempurna, kebiasaan minum terlalu banyak menjelang tidur, tidak buang air kecil sebelum tidur, tidur yang terlalu lelap sehingga tidak terbangun saat kandung kemih penuh, serta kebiasaan menahan keinginan buang air kecil.

Sementara itu, enuresis sekunder dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis maupun psikologis. Stres berat menjadi salah satu penyebab yang sering ditemukan, termasuk stres akibat toilet training yang dipaksakan atau dimulai terlalu dini. Selain itu, infeksi saluran kemih, diabetes, gangguan hormon antidiuretik (ADH), sleep apnea, serta faktor keturunan juga dapat memicu kondisi ini.

Beberapa penyebab lain yang perlu diwaspadai adalah sembelit, cedera pada saraf tulang belakang akibat olahraga atau kecelakaan, kelainan struktur saluran kemih seperti kelainan katup uretra atau ectopic ureter, hingga gangguan pada saraf otak seperti cerebral palsy.

Para orang tua dianjurkan untuk tidak langsung menganggap kebiasaan mengompol sebagai hal yang normal jika terjadi berulang atau muncul kembali setelah anak lama tidak mengompol. Pemeriksaan ke tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya sehingga penanganan yang tepat dapat diberikan sesuai kondisi yang mendasarinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....