Dystonia Diduga Berkaitan dengan Gangguan Otak, Ini Berbagai Penyebabnya

  • 20 Apr 2026 17:25 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, TALAUD - Dystonia merupakan gangguan gerakan yang menyebabkan otot berkontraksi secara tidak terkendali. Kondisi ini masih terus diteliti oleh para ahli, namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dystonia kemungkinan besar berkaitan dengan gangguan pada bagian otak yang disebut ganglia basal, yaitu area yang berfungsi mengatur koordinasi gerakan dan kontraksi otot.

Mengutip dari alodokter.com, Senin 20 April 2026, Gangguan pada sistem saraf dapat memicu gerakan berulang, posisi tubuh yang tidak normal, hingga kejang otot yang menyakitkan. Meski penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, para ahli menemukan bahwa dystonia juga dapat dipicu oleh berbagai penyakit atau kondisi medis lainnya.

Beberapa penyakit yang sering dikaitkan dengan dystonia antara lain Penyakit Parkinson, serta kelainan genetik seperti Penyakit Huntington dan Penyakit Wilson. Selain itu, kondisi ini juga bisa muncul akibat cedera kepala, terutama yang disebabkan oleh benturan keras atau kecelakaan.

Pada bayi, dystonia dapat terjadi akibat kekurangan oksigen pada otak saat proses persalinan atau dikenal sebagai hipoksia. Paparan zat beracun juga menjadi faktor risiko, seperti keracunan karbon monoksida maupun timbal.

Tak hanya itu, beberapa kondisi serius lainnya seperti tumor otak, sindrom paraneoplastik yang berkaitan dengan kanker, serta infeksi seperti Ensefalitis dan Tuberkulosis juga diketahui dapat memicu dystonia.

Gangguan pembuluh darah otak seperti Stroke, serta penyakit neurologis lain seperti Cerebral Palsy dan Multiple Sclerosis, turut menjadi faktor yang berpotensi menyebabkan kondisi ini.

Selain faktor penyakit, penggunaan obat-obatan tertentu juga perlu diwaspadai. Beberapa jenis obat seperti antipsikotik dan antiemetik diketahui dapat memicu gejala dystonia pada sebagian orang.

Dengan beragam kemungkinan penyebab tersebut, para ahli menekankan pentingnya pemeriksaan medis yang tepat untuk menentukan diagnosis dan penanganan yang sesuai. Penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan guna memahami secara lebih mendalam mekanisme terjadinya dystonia dan cara pencegahannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....