Mengenal Autism Spectrum Disorder dan Gejalanya Pada Anak

  • 10 Feb 2026 08:35 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih dikenal dengan sebutan autisme merupakan kondisi yang kompleks yang memengaruhi cara anak berperilaku, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Gejala-gejala autisme sangat beragam dan tidak semua ciri akan muncul pada setiap anak yang mengalami kondisi ini.

Oleh karena itu, autisme dianggap sebagai spektrum. Jenis autisme dengan gejala lebih ringan sebelumnya dikenal sebagai sindrom Asperger. Meskipun begitu, semua jenis ini masih termasuk dalam kategori besar yang sama, yaitu autism spectrum disorder (ASD).

Apa itu Autism Spectrum Disorder (ASD)?

Dilansir dari Mayapada Hospital Group, autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi anak dan membuat mereka menghadapi tantangan dalam hal komunikasi, pembelajaran, mempunyai minat yang terbatas, dan mengulangi perilaku tertentu (stimming). Kondisi ini umumnya dapat diidentifikasi sejak masa kanak-kanak.

Autisme membuat anak bertindak berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang dalam berinteraksi. Tanda-tanda ini biasanya mulai terlihat pada tahun pertama kehidupannya dan menjadi lebih jelas saat anak berusia 18 hingga 24 bulan.

ASD tidak bisa disembuhkan. Namun, berbagai bentuk terapi dapat membantu anak dengan autisme agar dapat berfungsi dan berinteraksi layaknya kebanyakan orang di masyarakat.

Gejala autisme

Gejala autisme mungkin tidak langsung terlihat di awal. Bahkan, perkembangan anak di tahun pertama mungkin terasa normal dan sesuai tahapan umumnya. Namun, penurunan kemampuan muncul tiba-tiba saat anak berusia dua tahun.

Ciri-ciri autisme pada anak dapat diamati dari kemampuan sosial, perilaku, dan perkembangan mereka. Beberapa tanda-tanda autisme pada anak mencakup:

Interaksi sosial dan komunikasi

Anak dengan autisme sering kali kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Beberapa cirinya adalah:

- Tidak merespons saat namanya disebut

- Menolak untuk dipeluk atau sentuh

- Lebih suka bermain sendiri

- Cenderung menghindari kontak mata dan kurang menunjukkan ekspresi wajah

- Terlambat berbicara atau bahkan tidak berbicara sama sekali

- Kehilangan kemampuan dalam menyusun kata atau kalimat

- Tidak mampu memulai atau melanjutkan percakapan, atau berbicara hanya ketika ingin meminta sesuatu

- Mengulang kata atau kalimat tanpa memahami makna kata tersebut

- Berbicara dengan nada yang tidak lazim, bisa terlihat seperti menyanyi atau menggunakan suara aneh

- Tidak mengerti pertanyaan atau instruksi yang sederhana

- Tidak dapat mengekspresikan emosi dan tidak peka terhadap perasaan orang lain

- Tidak menunjukkan minat terhadap suatu hal

- Memiliki pendekatan interaksi yang tidak layak, seperti bersikap pasif agresif

- Sulit memahami informasi nonverbal, seperti bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga nada suara

Pola perilaku

Ciri-ciri anak dengan kondisi ASD juga biasanya dapat terlihat dari pola perilakunya, seperti:

- Melakukan gerakan berulang, seperti bergetar, berputar, atau bertepuk tangan

- Menunjukkan perilaku berisiko yang bisa membahayakan dirinya sendiri tanpa kesadaran, seperti menggigit atau memukul kepala

- Memiliki rutinitas tertentu dan sangat marah jika ada sedikit perubahan

- Mengalami kesulitan dalam koordinasi sehingga terlihat canggung, misalnya berjalan dengan jinjit dan memiliki bahasa tubuh yang kaku

- Tertarik pada bagian-bagian kecil suatu objek, seperti roda mobil mainan berputar tanpa memahami kegunaan objek tersebut

- Menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap cahaya, sentuhan, atau suara (sensitivitas sensorik)

- Tidak terlibat dalam permainan peran

- Sangat terfokus pada aktivitas atau objek dengan cara yang tidak biasa

- Cenderung memiliki preferensi makanan tertentu dan menolak makanan dengan tekstur tertentu

Selain itu, anak dengan autisme juga mungkin menunjukkan ciri-ciri, seperti:

- Keterlambatan kemampuan berbicara

- Masalah motorik pada anak

- Keterlambatan dalam kemampuan kognitif atau belajar

- Memiliki perilaku hiperaktif, impulsif, atau minim perhatian (ADHD)

- Kejang atau epilepsi pada anak

- Kebiasaan makan atau tidur yang aneh

- Reaksi emosional atau suasana hati yang tidak normal

- Ketiadaan rasa takut atau ketakutan yang berlebihan

Penyebab autisme

Hingga saat ini, asal usul autisme pada anak masih belum diketahui. Kadang-kadang, kondisi ini muncul tanpa diduga akibat interaksi gen tertentu di dalam tubuh yang menghasilkan autism spectrum disorder (ASD).

Meskipun terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami autisme, seperti berat lahir rendah, memiliki saudara yang juga autis, adanya masalah genetik tertentu (misalnya, sindrom Down), atau seorang ibu yang hamil di usia di atas 35 tahun. Namun, ada atau tidaknya faktor-faktor tersebut tidak menjamin apapun.

Diagnosis

ASD umumnya bisa didiagnosis saat anak berusia 2 tahun. Dalam situasi ini, dokter spesialis anak yang berfokus pada pertumbuhan dan perkembangan dapat melakukan diagnosis berdasarkan pengamatan terhadap perilaku dan tahap tumbuh kembang anak.

Tidak ada tes khusus untuk menentukan autisme. Meski begitu, ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mendiagnosisnya, yaitu:

- Skrining autisme pada usia 18 dan 24 bulan di samping pemeriksaan rutin

- Evaluasi kemampuan kognitif anak

- Evaluasi keterampilan berbahasa anak

- Pengamatan perilaku anak

- Sesi konsultasi dengan orang tua untuk memahami perilaku anak di rumah

- Tes pendengaran

- Tes darah (jika diperlukan)

Pengobatan autisme

Hingga saat ini, tidak ada obat tunggal yang bisa menyembuhkan atau menghapus autisme, karena ini bukanlah suatu penyakit. Namun, terapi yang dilakukan secepat mungkin setelah diagnosis dapat membantu anak dengan autism spectrum disorder (ASD) untuk berinteraksi dan berfungsi seperti anak-anak seusianya.

Obat-obatan kadang kala diberikan untuk meredakan gejala yang muncul. Meskipun demikian, terapi lebih sering digunakan untuk meningkatkan kemampuan interaksi dan perilaku anak.

Beberapa jenis terapi yang dapat diberikan kepada anak dengan autisme meliputi:

- Terapi Analisis Perilaku Terapan

- Terapi okupasi

- Terapi wicara

- Terapi integrasi sensorik

- Latihan keterampilan sosial

- Terapi perilaku kognitif untuk menangani masalah lain yang memperburuk gejala, seperti ADHD

- Terapi keluarga, yang melibatkan orang tua dalam proses terapi di rumah

Setiap anak yang didiagnosis dengan autism spectrum disorder mungkin memiliki rencana terapi yang bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan yang dialaminya. Durasi keberhasilan terapi juga dapat berbeda, tergantung seberapa besar pengaruh autisme terhadap perilaku anak.

Oleh karena itu, penting untuk berdiskusi dengan dokter spesialis anak dan terapis dalam merencanakan pengobatan yang paling sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....