Hari Santri, Momentum Perkuat Moderasi Beragama dan Kemandirian

  • 23 Sep 2025 06:13 WIB
  •  Talaud

KBRN, Talaud : Menteri Agama Nasaruddin Umar meluncurkan rangkaian acara Hari Santri 2025 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Dalam pernyataannya, Menag mengemukakan rencana pemerintah untuk membentuk unit eselon I yang khusus menangani urusan pesantren.

“Selama ini, pengelolaan pondok pesantren dipegang oleh eselon II. Insya Allah, dalam waktu dekat, ketetapan akan keluar untuk memberikan pengelolaan kepada satu eselon I sendiri,” kata Menag Nasaruddin Umar di Jombang, Jawa Timur, Senin (22/9/2025).

Dia menjelaskan bahwa pesantren telah lama dikenal sebagai lembaga yang mandiri. “Mandiri ini harus tetap ada. Namun, itu bukan berarti pemerintah mengabaikan. Buktinya, kita memiliki Undang-Undang Pesantren dan saat ini sedang memperkuat kelembagaan,” tambahnya.

Menag juga mengungkapkan bahwa pemilihan Ponpes Tebuireng untuk pembukaan Hari Santri 2025 memiliki makna yang mendalam. “Di tempat ini, Resolusi Jihad dimulai yang kemudian menjadi awal Hari Santri. Tahun ini kita mengenang satu dekade pengakuan negara terhadap santri,” ujarnya.

“Apabila pesantren kuat, maka bangsa ini juga akan semakin kuat,” tegas Menag.

Dalam acara pembukaan Hari Santri 2025, turut hadir Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi KH Irfan Yusuf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz, Wakil Ketua PBNU KH Zulfa Mustofa, dan Ketua PP Muhammadiyah KH Saad Ibrahim.

Selain memperkuat kelembagaan, pemerintah juga memperhatikan kesejahteraan santri. Menag menyebutkan adanya program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Makan Bergizi Gratis (MBG), hasil inisiatif Presiden Prabowo Subianto, yang kini menyasar pondok pesantren.

“Santri harus memiliki pengetahuan yang kuat, tetapi juga harus sehat fisik dan gizi mereka terpenuhi. Dengan demikian, mereka siap menjadi generasi unggul yang mampu bersaing di dunia internasional,” terangnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya sekedar acara tahunan, melainkan sebuah momen untuk memperkuat posisi pesantren dalam kehidupan berbangsa.

“Melalui perayaan Hari Santri, kita menegaskan bahwa pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan konvensional, tetapi juga pusat pemberdayaan, perkuatan moderasi beragama, dan pendorong kemandirian umat. Oleh karena itu, langkah strategis penguatan kelembagaan pesantren melalui Eselon I khusus sangatlah penting,” jelas Suyitno.

Ia menambahkan, pembukaan Hari Santri 2025 berfokus pada tiga agenda utama: Halaqah Kebangsaan dengan tema “Memaknai Ulang Resolusi Jihad: Dari Pesantren untuk Kemaslahatan Bangsa”, Cek Kesehatan Gratis di empat pesantren di Jombang, dan peninjauan Program Makan Bergizi Gratis di dua pesantren.

Rangkaian Hari Santri 2025 juga meliputi agenda berskala nasional dan internasional: Halaqah Kebangsaan di delapan lokasi pesantren, Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI), Gerakan Ekoteologi Pesantren, Expo Kemandirian Pesantren, Penghargaan untuk Pesantren, Doa Santri untuk Negeri, Apel Hari Santri pada 22 Oktober, dan Malam Bakti Santri bersama Presiden RI.

“Semua rangkaian kegiatan ini menegaskan Hari Santri sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam menciptakan Indonesia yang sehat, kompetitif, dan berperadaban di kancah dunia,” tutup Suyitno.

Rekomendasi Berita