Mengenali Sejarah Angklung Indonesia
- 07 Des 2025 07:10 WIB
- Talaud
KBRN, Talaud: Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional paling ikonik dari Jawa Barat. Terbuat dari rangkaian tabung bambu yang disusun dalam sebuah bingkai alat musik ini menghasilkan nada ketika digoyangkan. Meski cara memainkannya tampak sederhana angklung memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang sangat kuat.
Dilansir dalam catatan budaya Sunda angklung telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan kuno pada abad ke-12 hingga ke-16. Pada masa itu angklung berperan penting dalam upacara penghormatan kepada Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri sosok yang dianggap sebagai lambang kesuburan dan kemakmuran. Selain fungsi ritual naskah Kidung Sunda juga menyebutkan bahwa angklung kerap dimainkan untuk membangkitkan semangat para prajurit ketika memasuki medan perang.
Sejumlah sejarawan termasuk Dr. Groneman berpendapat bahwa angklung sudah hadir di Nusantara bahkan sebelum pengaruh agama Hindu masuk ke Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi musik bambu telah menjadi bagian dari jati diri masyarakat Sunda sejak masa lampau.
Bentuk angklung diyakini berkembang dari alat musik bambu lain yakni calung. Perbedaan tinggi rendahnya nada diperoleh dari variasi ukuran bambu yang dipotong dengan presisi. Ada pula versi cerita yang menyebutkan bahwa angklung pertama kali muncul pada abad ke-7 di Jawa Barat berawal dari kreativitas seorang petani yang terinspirasi oleh suara bambu yang bergesekan tertiup angin.
Memasuki abad ke-19 angklung mulai memasuki panggung pertunjukan seni. Seniman-seniman lokal memanfaatkannya dalam teater rakyat dan pagelaran wayang sehingga alat musik ini semakin dikenal masyarakat luas. Kiprahnya melewati batas Indonesia ketika Daeng Soetigna dan kelompok senimannya memperkenalkan angklung dalam sebuah pertunjukan di Paris pada tahun 1938 masih pada masa penjajahan Belanda. Dari sinilah angklung mulai mendapatkan perhatian dunia internasional.
Pada November 2010 angklung resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Dalam deskripsinya UNESCO menjelaskan bahwa angklung terdiri dari dua hingga empat tabung bambu yang diikat dengan tali rotan pada sebuah bingkai kemudian menghasilkan suara saat digoyangkan. Suara khas tersebut muncul berkat teknik pemotongan bambu yang sangat teliti sehingga tiap tabung dapat memancarkan nada tertentu.
Bahan utama angklung bukan sembarang bambu. Pengrajin tradisional biasanya memilih bambu hitam yang dipanen pada waktu tertentu, umumnya pada periode dua minggu dalam setahun ketika suara jangkrik dianggap menandai kualitas bambu terbaik. Untuk membuat satu angklung diperlukan proses panjang sekitar enam bulan. Bambu harus dipotong, direndam, dibersihkan, lalu dijemur sebelum akhirnya dibentuk menjadi tabung-tabung nada.
Dengan sejarah panjang, fungsi ritual, hingga pengakuan internasional, angklung bukan hanya sekadar alat musik tetapi juga simbol kreativitas dan kearifan budaya masyarakat Sunda. Hingga kini angklung terus dimainkan di berbagai belahan dunia menjadi jembatan budaya Indonesia yang tak lekang oleh waktu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....