Ming Qi dan Makna Bakti dalam Tradisi Khonghucu

  • 08 Sep 2026 14:38 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Kertas emas, kertas perak dan berbagai benda replika yang digunakan dalam penghormatan kepada leluhur memiliki makna yang lebih dari sekadar perlengkapan ritual. Dalam tradisi Khonghucu, praktik tersebut berkaitan dengan nilai penghormatan, bakti dan tata kesusilaan.

Salah satu konsep yang dikenal adalah Ming Qi, yakni benda atau perlengkapan simbolis yang berkaitan dengan penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Konsep ini memiliki kaitan dengan pemikiran dalam Li Ji atau Kitab Kesusilaan.

Dalam pandangan Nabi Kongzi, orang yang telah meninggal tidak semestinya diperlakukan seolah-olah tidak pernah hidup. Namun, mereka juga tidak diperlakukan persis seperti orang yang masih hidup. Karena itu, perlengkapan untuk orang yang telah meninggal dibuat dalam bentuk simbolis.

Penyuluh Agama Khonghucu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Js. Theresia Agnes Lasut atau Tessa, menjelaskan bahwa pemahaman terhadap Ming Qi tidak dapat dipisahkan dari nilai Ren, Xiao dan Li.

“Ming Qi bukan sekadar benda yang dibakar setelah sembahyang. Di dalamnya terdapat makna penghormatan, bakti, dan kasih kepada leluhur. Bentuknya memang simbolis, tetapi yang hendak diwujudkan adalah nilai Xiao atau bakti serta penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita,” jelas Tessa.

Menurutnya, Xiao atau bakti kepada orang tua dan penghormatan kepada leluhur tidak berhenti ketika seseorang meninggal dunia. Nilai tersebut tetap diwujudkan melalui tata kesusilaan atau Li dalam berbagai bentuk penghormatan.

Dalam ajaran Khonghucu, Li tidak hanya berkaitan dengan tata ritual, tetapi juga kesusilaan dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sementara Ren mengandung nilai cinta kasih dan kemanusiaan.

Dalam praktik yang berkembang di masyarakat, dikenal kertas emas atau Jin Zhi yang digunakan dalam penghormatan kepada Tian dan Shenming/Sinbeng. Sementara kertas perak atau Yin Zhi berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan mereka yang telah meninggal.

Seiring perkembangan zaman, bentuk perlengkapan simbolis juga semakin beragam. Namun, menurut Tessa, makna utamanya bukan terletak pada benda yang digunakan, melainkan pada nilai penghormatan dan bakti yang ingin diwujudkan.

Pemahaman tersebut juga memiliki konteks sejarah. Pada masa Tiongkok Kuno pernah dikenal praktik pengorbanan manusia dalam pemakaman kalangan penguasa. Penggunaan benda simbolis menjadi bagian dari perkembangan tradisi penghormatan kepada orang yang telah meninggal tanpa mengorbankan kehidupan manusia lain.

Di sinilah nilai Ren, atau cinta kasih dan penghargaan terhadap kemanusiaan, menjadi penting. Nilai-nilai moral dalam ajaran Khonghucu menempatkan kemanusiaan, kesusilaan dan kebajikan sebagai bagian dari pembentukan karakter.

“Ming Qi menjadi bentuk visualisasi rasa hormat. Pesannya sederhana: meskipun seseorang telah tiada, ingatan, kasih, dan bakti anak cucu kepada leluhur tetap hidup,” ujar Tessa.

Dengan demikian, Ming Qi tidak semata-mata berbicara tentang benda atau ritual. Di baliknya terdapat pesan tentang bagaimana manusia menghormati leluhur, mengenang asal-usul keluarga dan menjaga nilai bakti dalam kehidupan.

Bagi umat Khonghucu, penghormatan kepada leluhur menjadi bagian dari pembinaan diri dan pengamalan kebajikan. Nilai tersebut diharapkan tidak berhenti dalam ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....