Produksi Pangan Talaud Masih Terbatas, Pasokan dari Luar Daerah Lebih Dominan

  • 15 Jun 2026 13:38 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kepulauan Talaud menyebutkan kebutuhan pangan dan komoditas hortikultura di daerah masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal, meskipun perkembangan sektor pertanian menunjukkan tren yang positif dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala BPS Kabupaten Kepulauan Talaud, Ryko Aprianto Puasa, mengatakan semakin banyak petani yang mulai mengembangkan usaha pertanian dan melakukan penanaman berbagai komoditas. Namun, produksi hortikultura daerah saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

Selain itu, untuk komoditas beras, khususnya beras premium, Talaud masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. Menurut Ryko, kontribusi produksi beras lokal terhadap kebutuhan masyarakat masih sangat kecil, yakni sekitar 0,03 persen dari total kebutuhan.

“Untuk kebutuhan beras premium, Talaud masih belum bisa mengandalkan produksi lokal. Ketersediaan beras di daerah masih didominasi oleh pasokan dari luar wilayah,” ujarnya, Senin 15 Juni 2026.

Ryko menjelaskan, berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan beras, pasokan yang masuk dari luar daerah rata-rata hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat selama sekitar dua minggu. Sementara itu, ketersediaan beras dari Bulog masih menjadi penopang utama dalam menjaga stok pangan daerah, meskipun sebagian besar merupakan beras kategori medium.

Ia juga mengungkapkan adanya perubahan pola distribusi pasokan pangan dan hortikultura ke Talaud dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya daerah pemasok utama dapat lebih fokus memenuhi kebutuhan wilayah kepulauan, kini pasokan harus berbagi dengan meningkatnya permintaan dari kawasan pertambangan nikel di Maluku Utara.

“Daerah pemasok, khususnya dari Manado, saat ini juga melayani kebutuhan yang meningkat dari wilayah pertambangan nikel di Maluku Utara. Kondisi ini turut memengaruhi ketersediaan barang dan harga komoditas yang masuk ke Talaud,” katanya.

Menurut Ryko, meningkatnya permintaan dari daerah lain, ditambah faktor cuaca dan biaya distribusi, menjadi beberapa penyebab naiknya harga komoditas hortikultura di Talaud dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, ia optimistis pengembangan sektor pertanian yang terus didorong pemerintah daerah dapat meningkatkan produksi pangan lokal secara bertahap, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi di masa mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....