Jejak Diaspora dan Kesetiaan Anak Negeri Pulau Miangas

  • 31 Mei 2026 16:34 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Di ujung paling utara Nusantara, tepat di mana ombak Samudra Pasifik pertama kali menyapa tanah Indonesia, tersimpan narasi panjang tentang keberanian, jati diri, dan kesetiaan. Melalui karya tulisnya, Soleman Lantaa, S.H., seorang putra daerah yang peduli akan akar budayanya, berhasil merangkum perjalanan hidup anak rantau dan sejarah Pulau Miangas, atau yang secara adat dikenal sebagai Pulau Tinonda.

Buku ini hadir bukan sekadar sebagai catatan akademis, melainkan menjadi kompas bagi generasi muda Miangas agar tidak kehilangan jati diri sebagai anak u wanua poilaten (anak negeri yang tercinta) di tengah derasnya arus diaspora global.

Salah satu fokus penting yang diangkat dalam catatan tersebut adalah dinamika penyebaran penduduk Miangas yang berlangsung sejak masa lalu. Pada era ketika peraturan lintas batas dan status kewarganegaraan belum mengikat, mobilitas warga begitu cair hingga ke wilayah Filipina. Hubungan perkawinan yang terjadi di sana meninggalkan jejak keturunan Miangas yang dapat dikenali melalui marga-marga khas seperti Lantaa, Papuarenda, Papea, Lupa, Wudu, hingga Essing.

Selain karena interaksi antarwilayah, faktor bencana alam juga menjadi pemicu utama perpindahan penduduk secara massal. Berdasarkan catatan sejarah, wabah kolera sempat memaksa sebagian warga mengungsi ke Desa Kuma di Pulau Karakelang. Pulau terluar ini juga tercatat beberapa kali dihantam oleh angin taifun atau puting beliung yang dahsyat.

Meskipun hantaman taifun pada akhir Oktober 1994 dan 29 April 1932 membawa kerusakan hebat pada pemukiman serta ratusan pohon kelapa, gelombang pengungsian besar yang dikoordinasikan pemerintah baru terjadi pada tahun 1977. Saat itu, bencana angin yang disertai naiknya permukaan air laut menggenangi seluruh perkampungan, sehingga sekitar 100 kepala keluarga harus diungsikan ke pemukiman baru bernama Dodap di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow, yang saat ini telah dimekarkan menjadi Kecamatan Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Jauh sebelum program evakuasi tersebut, migrasi mandiri menggunakan perahu layar juga sudah dilakukan oleh beberapa keluarga. Mereka sempat mendarat dan tinggal di Pantai Pasir Putih Mangaran. Namun, setelah mendengar adanya program transmigrasi di Bengel—yang dahulu bernama Langsap—mereka memilih pindah dan menetap di sana hingga sekarang.

Pada tahun 1963, gelombang perpindahan ini diikuti oleh beberapa keluarga dari Desa Ammat yang bergabung dalam program transmigrasi di lokasi antara Beo dan Rainis di Pulau Karakelang. Sayangnya, penempatan pemukiman yang berjarak sekitar lima kilometer dari garis pantai membuat sejumlah warga merasa tidak betah. Sebagian dari mereka memilih kembali ke Pulau Miangas, sementara sebagian lain memutuskan menetap di kampung-kampung pesisir.

Pola resetlemen penduduk di wilayah Beo dan Makatara ini kemudian dikenal sebagai Desa Resduk atau Resetel, yang juga mengikutsertakan warga Sangihe yang lama menetap di Mindanao. Di samping perpindahan terstruktur, tingginya mobilitas mandiri, baik permanen maupun temporer, turut andil dalam menyebarkan orang Miangas ke berbagai penjuru Nusantara.

Fenomena ini banyak bermula dari para petugas sipil maupun militer yang jatuh cinta dan menikah dengan perempuan setempat selama bertugas di perbatasan, lalu memboyong istri mereka saat masa tugas berakhir.

Perkembangan zaman juga membawa putra-putri Miangas merantau secara mandiri untuk menempuh pendidikan tinggi atau menjadi abdi negara. Keberhasilan di tanah rantau sering kali membuat mereka enggan untuk kembali menetap di pulau asal.

Meskipun telah hidup memencar, ikatan emosional dan adat masyarakat Miangas tidak pernah luntur. Mereka tetap memegang teguh tradisi “Matembo Wanua maala wabari maala pamamanua manga yupun”, yang secara harfiah berarti keharusan untuk pulang mengunjungi kampung halaman, melihat tempat ari-ari ditanam, serta berziarah ke makam leluhur.

Ritual pulang kampung ini menjadi sebuah kewajiban moral, terutama bagi mereka yang telah meraih kesuksesan di perantauan, dan biasanya dilaksanakan pada momen Natal, tahun baru, atau liburan sekolah.

Menariknya, diaspora Miangas di masa lalu juga kerap terjadi karena faktor ketidaksengajaan akibat keterbatasan teknologi komunikasi dan navigasi. Kisah para tetua yang berlayar lalu singgah dalam waktu lama di suatu tempat sering kali berujung pada pernikahan dengan penduduk setempat, seperti yang membentuk silsilah keluarga marga Tine di Gorontalo.

Bahkan, ada pula pelayaran yang tersesat dan terdampar sangat jauh hingga ke Pulau Selayar di Sulawesi Selatan. Keberadaan marga Mangoli di pulau tersebut menjadi bukti hidup yang tak terbantahkan bahwa mereka adalah keturunan asli dari tanah Miangas di ujung utara Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....