Menjaga "Jantung" Perbatasan: Soleman Lantaa Abadikan Jejak Peradaban Miangas
- 11 Mei 2026 18:16 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Miangas – Di ujung paling Utara Nusantara, di mana ombak Samudra Pasifik menyapa pertama kali tanah Indonesia, tersimpan narasi panjang tentang keberanian, jati diri, dan kesetiaan. Soleman Lantaa, S.H., seorang putra daerah yang peduli akan akar budayanya, berhasil merampungkan sebuah karya tulis yang merangkum perjalanan hidup anak rantau dan sejarah Pulau Miangas—atau yang secara adat dikenal sebagai Pulau Tinonda.
Buku ini bukan sekadar catatan akademis, melainkan sebuah "kompas" bagi generasi muda Miangas agar tidak kehilangan jati diri sebagai anak u wanua poilaten (anak negeri yang tercinta) di tengah arus diaspora global.
Dalam narasinya, Soleman Lantaa mengisahkan asal-usul penduduk Miangas yang penuh warna. Dimulai dari kisah legendaris Sapu dan Tinuri, dua bersaudara yang konon menyeberangi lautan dengan bantuan seekor ikan hiu untuk mencapai Miangas, hingga kisah pertemuan mereka dengan pelaut dari Nanusa, Langgu dan Larrungan.
Nama "Miangas" sendiri mengandung makna yang mendalam. Berasal dari kata yang berarti "Malu", merujuk pada rasa terkejut para pelaut Nanusa yang menyangka pulau tersebut kosong, namun ternyata telah berpenghuni.
Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah pengangkatan sosok pahlawan lokal yang selama ini hanya hidup dalam tutur lisan. Kedua sosok tesebut yaitu Opa Mura, Pahlawan yang dikenal karena kekuatannya menancapkan batu raksasa (Watu Mura) seberat 100 kg untuk menggertak perompak Sulu dan Opa Are, Sosok pemberani yang bertempur dengan tangan kosong melawan penjajah demi melindungi benteng di Gunung Ota.
Soleman mengusulkan agar semangat kepahlawanan ini diabadikan dalam bentuk prasasti atau patung di pintu masuk Pulau Miangas sebagai simbol selamat datang bagi para tamu.
Buku ini juga mencatat peristiwa-peristiwa penting di era modern, termasuk:
Aksi Heroik Robert Bambungan: Pada Perang Dunia II, ia menuliskan kode S.O.S dengan pasir putih di lapangan Miangas untuk menghentikan pemboman pesawat Sekutu, sebuah aksi yang menyelamatkan seluruh penduduk pulau.
Dinamika Lintas Batas: Cerita menggelitik tentang hubungan Miangas dengan Filipina, mulai dari insiden salah pasang bendera hingga sejarah perdagangan dan pernikahan lintas batas.
Refleksi Sosial: Soleman tidak menutup mata terhadap peristiwa kelam, seperti protes warga yang sempat mengibarkan bendera Filipina sebagai bentuk duka atas insiden lokal, yang kemudian berhasil diselesaikan dengan damai oleh pemerintah.
Melalui kutipan puitis dalam bahasa lokal, “Iamate masasahange arrange siaumiute” (Biarlah kami berlelah-lelah, asal saja namanya untuk kamu), Soleman menegaskan bahwa penyusunan buku ini adalah pengabdian terakhir bagi generasi mendatang.
"Buku ini adalah petunjuk bagi kita semua untuk saling berinteraksi dan tidak pernah melupakan jati diri, di mana pun kita merantau," tulis Soleman dalam kata pengantarnya.
Karya Soleman Lantaa ini diharapkan menjadi dokumen sejarah vital bagi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud dan Provinsi Sulawesi Utara dalam memandang Miangas bukan hanya sebagai titik koordinat pertahanan, melainkan sebagai entitas budaya yang kaya dan tak ternilai harganya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....