Sasando: Alat Musik Tradisional Pulau Rote

  • 07 Apr 2026 14:43 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud - Sasando merupakan alat musik berdawai khas Pulau Rote Nusa Tenggara Timur yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pengiring pertunjukan seni tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat setempat. Dengan bentuk yang khas menyerupai gitar namun memiliki konstruksi unik, sasando menghadirkan keindahan bunyi yang berbeda dari alat musik lainnya di Nusantara.

Sejarah mencatat bahwa sasando telah dikenal sejak sekitar abad ke-7 dilansir dari laman Indonesia Kaya. Kehadirannya melekat erat dalam kehidupan sosial masyarakat Pulau Rote baik dalam upacara adat, hiburan, maupun kegiatan budaya lainnya. Nilai tradisional yang terkandung di dalamnya menjadikan sasando lebih dari sekadar alat musik melainkan bagian penting dari warisan leluhur.

Secara fisik, sasando tersusun dari tabung bambu panjang yang berfungsi sebagai inti struktur. Pada bagian tengah tabung terdapat jalur melingkar tempat senar-senar direntangkan. Dawai tersebut dipasang secara vertikal dan disangga oleh ganjalan khusus untuk menghasilkan variasi nada. Cara memainkannya pun cukup khas yakni dengan memetik senar menggunakan kedua tangan secara bersamaan sehingga menghasilkan harmoni yang kaya dan merdu.

Berdasarkan sistem nadanya, sasando terbagi menjadi dua jenis utama. Pertama adalah sasando gong yang menggunakan tangga nada pentatonik dengan jumlah dawai terbatas, umumnya dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu tradisional Rote. Jenis kedua adalah sasando biola yang menggunakan sistem diatonik dengan jumlah senar lebih banyak memungkinkan eksplorasi musik yang lebih luas. Perkembangan sasando biola diperkirakan terjadi di wilayah Kupang pada akhir abad ke-18.

Dalam praktik budaya, sasando sering digunakan sebagai pengiring tarian serta nyanyian tradisional. Kehadirannya mampu memperkuat suasana pertunjukan dan memperkaya ekspresi seni daerah. Seiring perkembangan zaman inovasi juga dilakukan untuk menjaga eksistensi alat musik ini. Pada dekade 1960-an, lahirlah sasando elektrik yang memungkinkan jangkauan suara lebih luas dan adaptasi dengan panggung modern.

Keberadaan sasando hingga kini menjadi bukti kekayaan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Melalui upaya pengenalan kepada generasi muda serta dukungan berbagai pihak, diharapkan alat musik tradisional ini tetap hidup dan terus berkembang tanpa kehilangan nilai aslinya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....