Lanal Melonguane Gelar Upacara Hari Dharma Samudera 2026
- 15 Jan 2026 12:21 WIB
- Talaud
Video
RRI.CO.ID, Talaud - Komandan Lanal Melonguane Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, M.Tr.Opsla., pimpin Upacara dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera 2026 bertempat di Makolanal, Kamis (15/1/2026) pagi
Upacara tersebut diikuti oleh para perwira staff, bintara dan tamtama, Ketua Cabang 7 Daerah Kodaeral VIl Gabungan Jalasenastri Koarmada RI, Ny. Tris Yogie Kuswara bersama para pengurus dan Jalasenastri serta PNS di Pangkalan TNI AL yang terletak di wilayah perbatasan NKRI - Filipina ini.
Pada kesempatan itu, Danlanal melonguane membacakan amanat Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Muhammad Ali adalah Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla. Disampaikan, Peringatan Hari Dharma Samudera ini merupakan momentum untuk mengenang para pahlawan samudera yang telah mendharmabhaktikan hidupnya demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini.
Pada peringatan Hari Dharma Samudera kali ini, kita mengingat kembali peristiwa heroik dalam sejarah perjalanan TNI Angkatan Laut, di mana perjuangan para pahlawan Jalasena enam puluh empat tahun silam, tepatnya pada tanggal 15 Januari 1962 di Laut Arafuru, telah menjadi saksi bisu pengorbanan perjuangan para pahlawan laut Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan menghadapi penjajah.
" Ditandai dengan seruan semangat rela berkorban dan pantang menyerah oleh Komodor Yos Sudarso, “Kobarkan semangat pertempuran!!!” mengiringi perlawanan tanpa lelah kapal perang RI Matjan Tutul menghadang armada kapal perang Belanda," kutip Danlanal
Lanjut katanya, semangat bertempur dan pantang menyerah prajurit kapal perang RI Matjan Tutul tersebut telah menorehkan tinta emas dalam sejarah nasional perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa heroik yang tidak pernah pudar di hati segenap rakyat dan bangsa Indonesia, khususnya bagi para prajurit Jalasena sampai dengan saat ini.
" Pada kesempatan ini saya menekankan bahwa peringatan Hari Dharma Samudera harus menjadi kontemplasi dan refleksi diri untuk meneladani nilai dan semangat juang yang ditunjukkan oleh para pahlawan samudera yaitu:
Sikap ksatria, Rela berkorban dan pantang menyerah, Serta patriotisme tanpa batas yang menjadi jati diri prajurit Matra Laut," ujar Letkol Laut ( P) Yogie
Diungkapkan, Para pahlawan tersebut telah membuktikan bangsa Indonesia tidak akan pernah gentar menghadapi musuh dalam upaya mempertahankan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai-nilai kepahlawanan samudera yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu itu harus kita warisi dengan sepenuh hati.Nilai-nilai pertempuran laut yang luhur ini harus menjadi jiwa dan semangat generasi penerus untuk menghadapi tantangan tugas masa kini dan masa depan yang tidak kalah beratnya. Spirit dari peringatan Hari Dharma Samudera ini harus dapat diaktualisasikan dalam tugas-tugas kekinian.
" Untuk itulah kita dididik menjadi prajurit Jalasena yang tangguh menghadapi badai dan gelombang, demi tugas mulia mempertahankan kedaulatan negara di laut. Melalui semangat Jalesveva Jayamahe, mari kita jadikan momentum peringatan Hari Dharma Samudera ini untuk bersama-sama membangun TNI Angkatan Laut, menjadi kekuatan pertahanan negara di laut yang kuat, profesional dan memiliki deterrent effect yang tinggi serta dicintai oleh rakyat dan bangsa Indonesia," pungkasnya
Hari Dharma Samudera berawal dari peristiwa Belanda yang melanggar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB). Belanda menolak penyerahan Irian Barat (Papua) kepada Indonesia.
Hal tersebut membuat Indonesia melancarkan operasi rahasia bernama STC-9 (Satuan Tugas Khusus 9 Januari). Sebanyak 3 Kapal Republik Indonesia (KRI) dilibatkan dalam operasi rahasia untuk mengintai armada Belanda di sekitar Irian Barat.
Tiga Kapal Republik Indonesia yang dimaksud adalah:
1. KRI Macan Tutul
2. KRI Macan Kumbang
3. KRI Harimau
Pertempuran di Laut Arafuru pada 15 Januari 1962 antara tentara Indonesia melawan Belanda pun terjadi. Pertempuran berada di bawah kepemimpinan Yos Sudarso yang mempertahankan Irian Barat agar tidak jatuh ke Belanda.
Saat menjalankan misi dan semakin dekat ke Irian Barat, keberadaan ketiga KRI diketahui oleh Belanda. Pertempuran pun terjadi antara Angkatan laut Indonesia dengan Belanda. Sayangnya, kekuatan Angkatan Laut Indonesia tidak seimbang dengan kekuatan Belanda.
Komodor Yos Sudarso kemudian memerintahkan agar berbelok kembali, tetapi KRI Macan Tutul macet dan berputar. Hal ini yang membuat Belanda mengira KRI Macan Tutul hendak menyerang, sehingga mereka menembak KRI Macan Tutul.
Komodor Yos Sudarso gugur bersama anak buahnya. Sebelum gugur, dia mengeluarkan perintah yang terkenal
"Kobarkan Semangat Pertempuran".
Pertempuran laut antara Indonesia dan Belanda tidak pernah terjadi lagi, setelah peristiwa itu. Masyarakat Irian Barat memilih bergabung dengan Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....