Ayam Potong di Aceh Tengah, Harga Tinggi yang Tak Kunjung Turun
- 17 Feb 2026 17:38 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Di pasar tradisional Takengon, deretan kandang ayam potong tampak ramai dikerumuni pembeli. Namun, wajah mereka tak sepenuhnya ceria. Harga ayam yang bertahan di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per ekor membuat banyak orang harus berpikir dua kali sebelum membawa pulang lebih dari satu ekor.
Abu Bakar, seorang pedagang ayam yang berjualan di pasar di Tansaril, menghela napas panjang ketika ditanya soal harga.
“Pasokan terbatas, itu masalah utama. Tiga bulan lalu banjir besar menghanyutkan banyak kandang di Aceh. Kalau pun ada, tinggal di Banda Aceh. Jadi kami harus ambil barang dari Medan,” tuturnya sambil memindahkan ayam-ayam yang baru tiba ke kandang.
Bencana alam yang melanda beberapa bulan lalu katanya masih menyisakan luka. Tidak hanya bagi peternak yang kehilangan kandang di Aceh, tetapi juga bagi pedagang dan pembeli yang kini harus menghadapi harga tinggi, termasuk di Aceh Tengah. Ramadan yang biasanya menjadi momen meningkatnya permintaan, justru memperkuat tekanan harga, suasana ramai hanya ditatap saja, nyatanya mereka membeli untuk seadanya.
Di sisi lain, bagi sebagian warga, ayam tetap menjadi menu wajib di meja makan.
“Mau mahal pun, tetap beli. Ramadan kan sekali setahun, anak-anak sudah menunggu lauk ayam,” kata seorang ibu rumah tangga yang sedang menawar.
Suasana pasar pun seakan menjadi potret ketahanan masyarakat Aceh Tengah. Di tengah keterbatasan pasokan dan harga yang belum kunjung turun, mereka tetap berusaha menjaga tradisi kuliner Ramadan. Abu Bakar memprediksi kondisi ini masih akan berlangsung lama.
“Selama pasokan belum pulih, harga akan tetap seperti ini,” ujarnya.
Ramadan di Aceh Tengah tahun ini bukan hanya tentang ibadah dan silaturahmi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat beradaptasi dengan realitas ekonomi pasca-bencana.
Sn