Mengenal Alat Kesenian Tradisional Sangihe Terbuat dari Bambu

  • 04 Jul 2024 16:26 WIB
  •  Tahuna

KBRN Tahuna : Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi utara (Sulut), memiliki panorama alam yang indah serta beragam budaya dan kesenian tradisional. Salah satu seni budaya khas daerah Sangihe adalah musik bambu atau dalam bahasa lokal disebut "Musike Kalaeng".

Musike kalaeng terbuat dari bahan dasar alam sekitar yaitu bambu, "bulu" atau "kaleng" dalam bahasa Sangihe.

Keunikan bambu sebagai bahan dasar alat kesenian tradisional Sangihe tidak hanya terletak pada keberagaman alat musik dan alat kesenian, tetapi juga pada proses pembuatannya yang melibatkan keahlian tangan para pengrajin lokal. Mereka menggunakan teknik tradisional dan pengetahuan warisan leluhur dalam memilih dan memproses bambu menjadi alat kesenian yang indah dan bermakna.

Penggunaan bambu sebagai bahan dasar alat kesenian tradisional Sangihe juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan, karena bambu merupakan bahan alami yang mudah didaur ulang dan ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan semangat pelestarian budaya dan lingkungan hidup yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sangihe.

Dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan kearifan lokal dalam memanfaatkannya, bambu menjadi simbol keberlanjutan budaya dan alam bagi masyarakat Sangihe. Di era modern ini, keberadaan bambu sebagai bahan dasar alat kesenian tradisional Sangihe tetap mempertahankan nilai-nilai luhur budaya dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam menciptakan karya seni yang memukau dan bernilai tinggi.

Alat musik dengan cara tiup ini memiliki beberapa bentuk, mulai dari kecil sampai besar dengan bunyi yang berbeda, dipadukan menjadi satu komposisi alat dalam sebuah kumpulan musik yang menghasilkan harmonisasi yang nada awalnya berupa potongan bambu sederhana.

Seiring perkembangan zaman, kreasi dan ide baru, oleh para komposer maupun pengrajin lokal alat musik bambu secara intensif terus dikembangkan dan disempurnakan baik kapasitasnya musikal serta estetika perangkat musik bambu ke arah modifikasi bentuk yang lebih modern.

Musike Kalaeng atau musik bambu sering digunakan oleh grup musik bambu dalam kegiatan peribadatan, acara seremonial penyambutan tamu, acara kebudayaan, perayaan syukuran dan perlombaan. Mengembangkan regenerasi peniup musik bambu dapat melestarikan musik tradisional ini kepada generasi selanjutnya.

Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi saat ini diharapkan musik tradisional sangihe musike kaleng atau musik bambu mampu terus berkiprah dan terus dicintai masyarakat Sangihe khususnya dan Indonesia pada umumnya. (AP)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....