BRIN Kaji Ulat Sagu Jadi Sumber Protein
- 31 Agt 2026 14:16 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji potensi ulat sagu sebagai sumber protein alternatif. Hewan yang selama ini dikenal sebagai hama tanaman sagu tersebut dinilai memiliki kandungan nutrisi yang menarik untuk dikembangkan menjadi pangan, pakan maupun bahan baku industri.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Rein E. Senewe, mengkaji perkembangan larva Rhynchophorus spp. yang hidup pada batang sagu. Hasil kajian yang dipublikasikan pada website BRIN, menunjukkan terdapat lima tahap perkembangan larva, dengan periode sekitar 75 hingga 90 hari setelah batang sagu ditebang sebagai waktu yang potensial untuk pemanenan larva.
Yang menarik, tepung kering ulat sagu dalam kajian tersebut berpotensi memiliki kandungan protein hingga sekitar 60 persen. Selain protein, ulat sagu juga mengandung lemak serta asam lemak omega-3, omega-6 dan omega-9. Namun, BRIN menegaskan pemanfaatannya sebagai pangan tetap membutuhkan kajian mengenai keamanan pangan, bioekologi dan identifikasi jenis ulat secara lebih mendalam.
Temuan ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang memiliki hubungan erat dengan tanaman sagu.
Sagu bukan sekadar bahan pangan di Sangihe. Tanaman ini tumbuh di kebun-kebun masyarakat dan telah menjadi bagian dari kehidupan serta kearifan lokal, termasuk diolah menjadi sumber karbohidrat dan berbagai makanan tradisional.
Karena itu, muncul peluang untuk melihat batang sagu yang sudah ditebang bukan hanya sebagai limbah, tetapi juga sebagai media potensial pengembangan ulat sagu. Jika penelitian lebih lanjut membuktikan keamanan, produktivitas dan kelayakan ekonominya, masyarakat Sangihe berpotensi tidak hanya menjadi konsumen sagu, tetapi juga mengembangkan usaha baru berbasis ulat sagu.
Pengembangannya tentu tidak berarti masyarakat harus sengaja memperbanyak hama di kebun sagu. Justru diperlukan teknologi budidaya dan pengelolaan khusus agar produksi ulat dapat dilakukan secara terkontrol tanpa mengganggu tanaman sagu yang masih produktif. Kajian BRIN mengenai waktu perkembangan larva dapat menjadi salah satu dasar untuk penelitian lebih lanjut di daerah penghasil sagu seperti Sangihe.
Jika berhasil dikembangkan, ulat sagu bisa menjadi produk pangan lokal bernilai tambah. Dari yang selama ini dipandang sebagai hama, ulat sagu berpotensi diolah menjadi tepung protein, makanan ringan atau produk pangan lainnya. Bagi Sangihe, peluang tersebut menarik untuk dikaji karena dapat menggabungkan kekayaan pangan lokal, potensi ekonomi masyarakat dan diversifikasi sumber protein.(Arjun)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....