Lestarikan Budaya, Ibadah Jemaat Maranatha Pakai Bahasa Daerah
- 25 Jan 2026 10:20 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Ibadah Minggu 25 Januari 2026 di Jemaat GMIST Maranatha Tahuna berlangsung khidmat dan tertib penuh makna rohani. Ibadah minggu ke 4 ini sebagaimana program jemaat, menggunakan bahasa daerah Sangihe sebagai wujud pelestarian iman budaya gerejawi yang hidup di jemaat lokal.
Bertindak selaku Khadim adalah Pendeta Vero Karimang Takasihaeng S.Th yang memimpin pelayanan dengan penuh penghayatan iman. Pelayanan didukung asistensi Pelayanan Keluarga (Pelka) anak termasuk didalamnya Anak-anak sekolah minggu.
Pembacaan Alkitab diambil dari 1 Tawarikh 16 ayat 7 sampai 18 yang dibacakan dalam bahasa daerah Sangihe dan juga diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Firman Tuhan tersebut mengajak jemaat mengingat karya Allah dan kesetiaan-Nya sepanjang sejarah umat dalam kehidupan beriman sehari-hari bersama.
Jemaat yang hadir berasal dari kelompok 1 sampai 18, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, ibu bapak, hingga lanjut usia. Pengisi pujian melibatkan Anak-anak Sekolah Minggu, Pelka Ibu serta Pelka Bapak Asael yang memuliakan Tuhan dengan penuh sukacita. Pantauan rri.co.id, 3 Pendeta yang ada di Jemaat Maranatha yakni Pendeta Grietha Dumaili Luase, Pendeta Thilda Mardesa Ponto, dan Pendeta Sintike Patras Dalope turut serta dalam pujian bersama Pelka Anak.
Pujian dilantunkan harmonis memperkaya suasana ibadah dan menguatkan kebersamaan jemaat lintas generasi dalam kasih Kristus yang hidup nyata.
Seluruh rangkaian ibadah berjalan tertib penuh kekhusyukan serta mencerminkan semangat pelayanan gereja di tengah kehidupan jemaat yang dinamis. Bahasa Sangihe mempererat identitas jemaat dan menghadirkan kedekatan spiritual antar generasi dalam ibadah Minggu yang sakral bermakna.
Ibadah ini menjadi momentum penguatan iman serta kebersamaan Jemaat GMIST Maranatha Tahuna dalam panggilan pelayanan bersama yang berkelanjutan.
Majelis Pekerja Jemaat dalam penyampaian Warta Jemaat yang disampaikan oleh Sekretaris Pelaksana, Diaken Jelpris Topuh berharap Ibadah dalam Bahasa Sangihe dapat terus dilaksanakan demi menjaga kelestarian bahasa Sangihe sehingga tidak punah dan dapat diwariskan ke generasi mendatang. (Arsitini)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....