Ritual Diko U Solo, Warisan Budaya Sangihe jelang Idul Fitri
- 13 Mar 2026 19:28 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Ritual Diko U Solo menjadi salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Kepulauan Sangihe. Tradisi ini dilaksanakan oleh para penghayat kepercayaan Islam Tua atau Masade yang bermukim di Kampung Lenganeng, sebagai bagian dari ritus keagamaan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Budayawan muda Sangihe, Hermanto Mohonis, S.Pd, dalam Program Magota Bacerita di Prosatu Tahuna menjelaskan bahwa Diko U Solo memiliki payung hukum dalam Undang-Undang Kebudayaan dan dikategorikan sebagai bagian dari ritus budaya masyarakat.
“Diko U Solo bukan sekadar pemasangan lampu, tetapi simbol perjalanan spiritual manusia yang keluar dari alam gelap yang penuh dosa dan kenistaan menuju terang melalui pewahyuan,” ujar Hermanto.
Ritual ini biasanya dilaksanakan pada H-3 menjelang Idulfitri, tepatnya pada malam ke-27 Ramadan. Kegiatan dipusatkan di Masjid Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) di Kampung Lenganeng, namun juga dapat dijumpai di rumah-rumah para penganut kepercayaan tersebut.
Dalam pelaksanaannya, Diko U Solo sarat dengan berbagai simbol. Pada bagian pucuk terdapat obor, telur, dan ketupat yang dianyam menyerupai burung Kaemba, melambangkan perjuangan manusia melawan hal-hal buruk dalam kehidupan.
Selain itu terdapat tebu yang melambangkan perjalanan hidup manusia dari alam dunia menuju alam akhirat. Ada pula kue dodol yang menjadi simbol berkat dari Tuhan, serta berbagai jenis makanan yang digantungkan sebagai bagian dari persembahan yang dibawa oleh warga atau umat.
Pada malam hari, masyarakat melaksanakan ritual pemasangan lampu pada Diko U Solo. Prosesi tersebut kemudian diakhiri dengan tradisi rampasan atau dalam bahasa lokal disebut “mepapuraho”.
Menurut Hermanto, tradisi ini memiliki makna mendalam, yakni menggambarkan bahwa dalam kehidupan manusia harus berjuang menghadapi berbagai tantangan untuk memperoleh keberkahan.
Ia juga menegaskan bahwa Ritual Diko U Solo merupakan bentuk akulturasi antara penyebaran Islam Tua (Masade) dengan budaya lokal masyarakat Sangihe yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Hermanto berharap generasi muda terus diberi ruang untuk belajar dan terlibat dalam pelaksanaan ritual tersebut.
“Harapan kami, generasi muda Sangihe terus dilatih dan dilibatkan agar tradisi Diko U Solo tetap lestari dan tidak punah,” katanya.(Arsitini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....