Ramadhan Latih Kontrol Diri di Era Instan

  • 01 Mar 2026 04:54 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Bulan suci Ramadhan terus berjalan. Umat Muslim diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat ketenangan jiwa di tengah kehidupan yang bergerak begitu cepat.

Dalam kehidupan modern yang serba instan, masyarakat kini terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Ingin makan cukup memesan, ingin informasi hanya satu klik, bahkan hiburan tersedia dalam hitungan detik. Dunia bergerak cepat, terkadang melampaui kesiapan hati manusia.

Budaya instan ini tanpa disadari membuat sebagian orang sulit bersabar. Keinginan serba cepat, hasil yang segera terlihat, hingga perubahan spiritual yang diharapkan berlangsung instan, sering kali menjadi pola pikir yang berkembang di tengah masyarakat.

Padahal, dalam ajaran Islam, ibadah adalah proses. Keimanan tidak tumbuh dalam sekejap, melainkan dibangun perlahan melalui kesabaran, konsistensi, dan pengendalian diri. Ramadhan hadir sebagai sarana pembelajaran dan pembinaan jiwa secara bertahap.

Hal tersebut disampaikan Siti Yuliati, S.Ag, dalam Kultum Siaran Khusus Ramadhan 1447 Hijriah di Pro 1 RRI Tahuna, Minggu 1 Maret 2026. Ia menegaskan bahwa puasa merupakan latihan besar bagi jiwa untuk menunda keinginan.

Menurutnya, saat seseorang merasa haus di siang hari Ramadhan, sejatinya ia mampu saja untuk minum tanpa diketahui orang lain. Namun kesadaran bahwa Allah Maha Melihat membuat seorang hamba memilih menahan diri. Di situlah letak kekuatan iman yang sedang dibangun.

Menunda keinginan, lanjutnya, adalah latihan iman yang luar biasa. Banyak persoalan hidup muncul bukan karena tidak mengetahui mana yang benar, melainkan karena sulit mengendalikan dorongan diri, seperti marah yang ingin segera dilampiaskan atau komentar yang ditulis tanpa pertimbangan.

Ramadhan, kata Siti Yuliati, mengajarkan pentingnya memiliki “rem” dalam diri. Ketika seseorang mampu mengendalikan lapar dan haus, ia sedang membangun kekuatan spiritual yang akan menjadi bekal menghadapi kehidupan setelah Ramadhan.

Sebagai teladan, ia mengisahkan Umar bin Khattab, seorang khalifah yang dikenal tegas namun sangat berhati-hati terhadap dirinya sendiri. Saat terjadi paceklik panjang dan rakyat mengalami kelaparan, Umar menolak menikmati makanan mewah. Ia hanya makan roti kering yang dicelupkan ke minyak, seraya bertekad tidak akan hidup lebih nyaman sebelum rakyatnya kenyang. Keteladanan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana pengendalian diri menjadi wujud kepemimpinan dan keimanan yang kuat.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....