Tokoh Masyarakat Soroti Pemadaman Listrik Berulang

  • 19 Feb 2026 19:41 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Fenomena pemadaman listrik yang terus terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe menuai sorotan dari tokoh masyarakat. Kondisi tersebut dinilai sudah sangat memprihatinkan dan berdampak luas terhadap aktivitas warga, terlebih di bulan suci Ramadhan.

Seorang tokoh masyarakat dalam dialog interaktif Pro 1 RRI Tahuna,Kamis 19 Februari 2026 menyebut, kondisi padamnya listrik saat ini diibaratkan seperti “penyakit stadium empat”. Ungkapan itu menggambarkan betapa seriusnya persoalan yang dirasakan masyarakat akibat intensitas pemadaman yang kerap terjadi.

Ia mengungkapkan, di tengah masyarakat muncul istilah sindiran, “tiada hari tanpa olahraga, tiada hari tanpa pemadaman lampu.” Menurutnya, situasi tersebut memicu trauma dan keresahan warga, baik di pasar, warung kopi, maupun tempat-tempat berkumpul lainnya.

Berbagai bentuk kritik bahkan aksi penyampaian aspirasi kepada PLN mulai bermunculan. Namun demikian, ia berharap kritik tersebut tetap disalurkan secara santun sebagai bentuk kontrol sosial yang menjadi hak masyarakat terhadap pelayanan publik.

Meski sejumlah alasan teknis dari pihak PLN dinilai masuk akal, tokoh masyarakat tersebut menegaskan bahwa persoalan pemadaman bukan hanya terjadi saat Ramadhan, melainkan sudah berlangsung dari bulan ke bulan. Karena itu, ia berharap tanggung jawab tidak semata dibebankan kepada PLN, tetapi juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

Ia mencontohkan upaya Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud yang berhasil memperjuangkan tambahan mesin pembangkit dari pemerintah pusat. Menurutnya, langkah serupa perlu diperjuangkan bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD demi menjaga pasokan listrik bagi masyarakat Sangihe.

Tokoh masyarakat itu juga mengingatkan agar kerja keras petugas PLN di lapangan tetap dihargai. Kondisi geografis Sangihe yang berbukit dan dipenuhi pepohonan sering menjadi kendala teknis jaringan listrik, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan bersama.

Namun demikian, ia menyoroti pola pemadaman yang terkadang terjadi tanpa jadwal yang jelas. Hal inilah yang kerap memicu kemarahan warga. Ia berharap PLN dapat menyampaikan strategi yang lebih terukur, termasuk menjaga pasokan listrik di wilayah dengan komunitas Muslim yang besar seperti Tahuna, Tidore, Manente, dan sekitarnya selama Ramadhan.

Di akhir dialog, ia berharap PLN menyiapkan langkah antisipatif, termasuk kesiapan genset cadangan di titik-titik tertentu, agar pemadaman tidak mengganggu pelaksanaan ibadah. Menurutnya, listrik menjadi bagian penting dalam menunjang kekhusyukan ibadah di bulan suci, sehingga diperlukan sinergi antara PLN, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....