Ramadhan Momentum Tarbiyah Iman dan Ketenangan

  • 18 Feb 2026 07:14 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Umat Islam saat ini berada di penghujung bulan Sya’ban, pertanda bahwa dalam hitungan hari akan memasuki Bulan Suci Ramadhan. Momentum ini menjadi waktu refleksi bagi setiap muslim untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.

Menjelang Ramadhan, suasana batin umat Islam sejatinya dipanggil untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan dunia, menengok ke dalam diri, serta bertanya dengan jujur tentang arah dan tujuan hidup yang sedang dijalani.

Refleksi ini dinilai semakin relevan di tengah realitas sosial saat ini, ketika generasi muda tampak sibuk, terkoneksi secara digital, dan memiliki kebebasan yang luas, namun pada saat yang sama rentan mengalami kelelahan mental dan kerapuhan emosional.

Fenomena stres, kecemasan, hingga perasaan kehilangan makna hidup bukan lagi menjadi isu terbatas, melainkan gejala yang semakin umum, terutama di kalangan anak muda. Di tengah arus gaya hidup modern, capaian materi dan akses hiburan sering kali tidak diimbangi dengan pembinaan iman yang memadai.

Kehidupan yang berjalan cepat, tekanan sosial yang tinggi, serta standar kebahagiaan yang kerap ditentukan oleh validasi digital, membuat nilai diri diukur dari pencapaian yang kasat mata. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, kondisi psikologis pun dapat terganggu.

"Perilaku konsumtif, gaya hidup boros, relasi yang tidak sehat, hingga normalisasi perilaku menyimpang dinilai bukan semata-mata persoalan ekonomi, melainkan berkaitan dengan kekosongan spiritual dan minimnya proses tarbiyah iman. Hal ini disampaikan Wahyudi Hapit, S.Pd dalam acara Mimbar Agama Islam di Pro 1 RRI Tahuna, Selasa, 17 Februari 2026,"

Wahyudi menjelaskan, sejak awal Islam memandang iman bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan realitas hidup yang harus dirawat, ditumbuhkan, dan diperjuangkan. Iman yang tidak dibina akan melemah, dan ketika iman melemah, daya tahan jiwa pun ikut rapuh.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut manusia mudah dikendalikan oleh dorongan sesaat dan kehilangan orientasi hidup. Dalam psikologi kontemporer kondisi ini dikenal sebagai krisis makna, sementara dalam perspektif Islam dipahami sebagai hati yang jauh dari Allah, dua istilah yang berbeda namun menunjuk pada luka batin yang serupa.

Menurutnya, Ramadhan hadir bukan sekadar ritual tahunan, melainkan mekanisme ilahiah untuk memulihkan manusia. Puasa melatih pengendalian diri, shalat malam menghadirkan ketenangan, Al-Qur’an menjadi penuntun arah hidup, serta zakat dan sedekah menumbuhkan empati. Jika dijalani dengan kesadaran, seluruh rangkaian ibadah tersebut menjadi proses tarbiyah iman yang menguatkan jiwa dan menenangkan batin.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....