Kementrian Pertanian Perkuat Teknologi Jaga Kesehatan Hewan
- 29 Jul 2026 03:22 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kerja sama internasional untuk meningkatkan kapasitas laboratorium kesehatan hewan di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Food and Agriculture Organization (FAO) Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) Indonesia dan Australian Centre for Disease Preparedness (ACDP) dalam penyelenggaraan pelatihan bioinformatika di Yogyakarta pada 13–17 Juli 2026.
Kerja sama ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga laboratorium dalam memanfaatkan teknologi genomik dan bioinformatika. Melalui teknologi tersebut, laboratorium dapat mendeteksi, mengidentifikasi, serta menganalisis penyebaran penyakit hewan dengan lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional.
Dilansir dari website resmi Kementan, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, mengatakan pemanfaatan teknologi genomik menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem surveilans dan pengendalian penyakit hewan. Menurutnya, kemampuan mengolah data genom akan membantu pemerintah mengambil kebijakan berbasis bukti ilmiah dalam menangani berbagai ancaman penyakit.
Kehadiran FAO ECTAD Indonesia dalam pelatihan ini menjadi bentuk dukungan organisasi internasional terhadap penguatan sistem kesehatan hewan nasional. Sementara itu, ACDP Australia membagikan pengalaman dan keahlian di bidang bioinformatika serta teknologi genomik yang telah diterapkan dalam penanganan penyakit hewan di berbagai negara.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu membangun jejaring laboratorium veteriner yang memiliki standar analisis yang sama. Hal ini penting untuk mempercepat pertukaran data, meningkatkan kualitas diagnosis, serta memperkuat respons terhadap penyakit hewan strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), African Swine Fever (ASF), Avian Influenza (AI), dan Newcastle Disease (ND).
Selain meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, kerja sama internasional ini juga menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengadopsi perkembangan teknologi terbaru dalam bidang kesehatan hewan. Dengan demikian, laboratorium veteriner di berbagai daerah dapat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mendukung sektor peternakan nasional.
Ke depan, hasil dari kerja sama dan transfer teknologi ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh laboratorium di tingkat pusat, tetapi juga dapat diterapkan secara merata di seluruh Indonesia, termasuk wilayah perbatasan seperti Kabupaten Kepulauan Sangihe yang masih bergantung pada pasokan ternak, khususnya ayam pedaging, dari Manado. Penerapan teknologi deteksi penyakit yang lebih cepat dan akurat diharapkan mampu menjaga kesehatan ternak, memperlancar distribusi, serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat di wilayah kepulauan dan perbatasan. (Arjun)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....