Manggis Kaya Antioksidan, Kulitnya juga Berpotensi Dimanfaatkan

  • 30 Sep 2026 08:55 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Manggis merupakan salah satu buah tropis yang banyak tumbuh di Indonesia. Buah ini memiliki rasa manis dengan sedikit rasa asam. Saat ini buah manggis cukup banyak dijumpai dijual di pasar-pasar tradisional yang ada di Sangihe.

Manggis memiliki nama ilmiah Garcinia mangostana L. Di sejumlah daerah, buah ini mempunyai sebutan yang berbeda. Masyarakat Jawa Barat mengenal manggis dengan nama manggu. Sementara masyarakat Sumatera Barat menyebutnya manggih atau manggis. Di Sangihe juga sering disebut manggustan. Manggis umumnya tumbuh baik pada wilayah tropis dengan kelembapan tinggi. Tanaman ini membutuhkan tanah subur dan ketersediaan air cukup.

Dilansir dari Biodiversity Warriors Kehati buah manggis mengandung serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa antioksidan. Kandungan tersebut membuat manggis memiliki nilai gizi bagi tubuh. Antioksidan membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Namun, konsumsi manggis tetap perlu menjadi bagian pola makan seimbang.

Tidak hanya daging buah, kulit manggis juga memiliki kandungan senyawa bioaktif. Salah satu kelompok senyawa yang banyak diteliti adalah xanthone. Beberapa penelitian menemukan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari senyawa xanthone. Namun, penelitian tersebut belum cukup membuktikan manfaat pengobatan. Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menjadikan kulit manggis sebagai pengganti obat. Penggunaan untuk tujuan kesehatan perlu memperhatikan keamanan dan bukti ilmiah.

Kulit manggis secara tradisional telah dimanfaatkan masyarakat di sejumlah negara Asia Tenggara. Kulit tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi bahan olahan. Selain kulit, biji dan daun manggis juga mengandung berbagai senyawa bioaktif. Bagian tanaman tersebut masih menjadi objek penelitian ilmiah.

Tanaman manggis memiliki pertumbuhan relatif lambat dibandingkan sejumlah tanaman buah lainnya. Pohon yang berasal dari biji membutuhkan beberapa tahun sebelum berproduksi.

Setelah memasuki masa produktif, pembungaan manggis dipengaruhi kondisi lingkungan. Perubahan curah hujan dan periode kering dapat memengaruhi pembungaan. Buah manggis membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam bulan untuk mencapai kematangan. Waktu tersebut dihitung sejak pembentukan buah.

Musim panen manggis berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang memengaruhi waktu panen. Di Indonesia, panen manggis dapat berlangsung pada waktu berbeda antarwilayah. Kondisi tersebut membuat ketersediaannya dapat ditemukan sepanjang tahun.

Selain dikonsumsi segar, manggis dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Kulitnya juga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Manggis memiliki nilai ekonomi sekaligus potensi pemanfaatan yang cukup besar. Pengembangan produk turunannya dapat meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Meski memiliki berbagai kandungan bermanfaat, konsumsi manggis tetap harus dilakukan secara wajar. Masyarakat juga perlu mengutamakan pola makan bergizi dan beragam. (Arsitini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....