Kemenkes: Jangan Salah Tangani DBD di Rumah, Kenali Mitos dan Faktanya

  • 02 Jul 2026 15:07 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia, terutama saat musim hujan maupun peralihan musim. Di tengah banyaknya informasi yang beredar di masyarakat, tidak sedikit mitos mengenai penanganan DBD di rumah yang justru dapat membahayakan pasien. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah penanganan yang tepat berdasarkan fakta medis.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai berbagai mitos mengenai penanganan Demam Berdarah Dengue (DBD) di rumah. Melalui unggahan edukasi di akun Instagram resmi Kemenkes RI, masyarakat diajak memahami fakta medis agar penanganan pasien DBD tidak keliru dan dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Edukasi tersebut sejalan dengan anjuran Kemenkes mengenai pentingnya penanganan DBD yang tepat dan segera mendapatkan pertolongan medis bila kondisi memburuk.

Salah satu mitos yang masih sering dipercaya adalah anggapan bahwa semua jenis obat pereda nyeri aman diberikan ketika anak mengalami demam tinggi akibat dugaan DBD. Faktanya, pasien DBD sebaiknya menghindari obat golongan ibuprofen dan aspirin karena dapat meningkatkan risiko perdarahan. Untuk membantu menurunkan demam, obat yang dianjurkan adalah paracetamol sesuai dosis yang tepat.

Selain penggunaan obat yang benar, pasien juga perlu mendapatkan asupan cairan yang cukup dan dipantau secara berkala. Apabila demam tidak kunjung membaik, muncul perdarahan, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau kondisi pasien semakin lemas, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kemenkes juga meluruskan mitos lain yang menyebutkan bahwa jus jambu biji dapat langsung menyembuhkan DBD. Memang, jus jambu mengandung vitamin C dan antioksidan yang baik bagi tubuh. Namun, minuman tersebut bukanlah obat untuk DBD dan tidak dapat menggantikan terapi medis.

Penanganan utama pasien DBD tetap berfokus pada terapi cairan, pemantauan kondisi klinis, serta penanganan medis yang tepat guna mencegah terjadinya syok akibat kebocoran plasma. Jus jambu hanya dapat menjadi pelengkap asupan nutrisi selama masa pemulihan, bukan sebagai pengobatan utama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....