Tingkatkan Kompetensi, RSUD Liun Kendage Gelar Pelatihan Intensif Kegawatdarura

  • 22 Mei 2026 21:21 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Dalam upaya meningkatkan standar pelayanan kesehatan dan kompetensi sumber daya manusia, UPTD RSUD Liun Kendage Tahuna menggelar pelatihan intensif kegawatdaruratan bagi tenaga medis. Kegiatan yang menyasar 35 tenaga perawat dan bidan ini bertujuan memastikan seluruh staf memiliki sertifikasi dan keterampilan yang mumpuni dalam menangani kondisi kritis pasien.

Direktur UPTD RSUD Liun Kendage Tahuna, dr. Polideng Dalawir, kepada rri.co.id, Kamis (21/5/2026), menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah manajemen rumah sakit melakukan evaluasi internal.

"Hasil identifikasi kami menunjukkan bahwa mayoritas petugas sudah lama tidak memperbarui keterampilan mereka, sehingga sertifikat yang dimiliki tidak lagi berlaku. Kami kemudian bekerja sama dengan Himpunan Perawat Gawat Darurat Indonesia (HIPGABI) Cabang Manado untuk memberikan pelatihan bagi 35 tenaga perawat, termasuk 19 perawat IGD dan para kepala ruangan," kata dr. Polideng.

Pelatihan yang berlangsung Rabu (20/5/2026) tersebut menerapkan metode hands-on, di mana para peserta langsung mempraktikkan teknik resusitasi dan prosedur kegawatdaruratan menggunakan alat peraga manekin.

Lebih lanjut, dr. Polideng mengungkapkan komitmennya untuk memperluas cakupan pelatihan hingga ke seluruh elemen staf rumah sakit. Pihaknya berencana menggelar in-house training yang tidak hanya terbatas pada tenaga medis, tetapi juga menyasar petugas non-kesehatan seperti pengemudi ambulans, petugas keamanan, hingga staf kebersihan.

"Langkah selanjutnya, kami akan melakukan in-house training bagi petugas non-kesehatan. Tujuannya sederhana namun krusial, yaitu agar semua staf rumah sakit tahu apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba ada pasien yang tidak sadarkan diri atau henti napas di lingkungan rumah sakit," ujarnya.

Menurut dr. Polideng, dalam kondisi gawat darurat, setiap detik sangat berarti bagi keselamatan nyawa pasien. Jika seluruh staf, meski dengan level kompetensi yang berbeda, mampu melakukan tindakan dasar seperti membunyikan alarm, memanggil pertolongan, atau memposisikan pasien sesuai prosedur bantuan hidup dasar, maka risiko fatal dapat diminimalisir. (Julfan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....