Tuberkulosis Paruh, Pahami Hal Ini Mudahkan Penanganan

  • 26 Feb 2026 20:37 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Dokter Aprikonus Loris Spesialis Penyakit Dalam kepada RRI.CO.ID mengatakan ada beberapa hal penting yang harus dipahami sebagai edukasi dan modal dalam penganan pasien tuberculosis paru kedepannya.

Tuberkulosis paruh merupakan penyakit infeksi di paruh yang disebabkan oleh kuman spesifik Mycobacterium tuberculosis yang menyerang semua lapisan masyarakat. Baik anak, orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.

Menurut Dokter, gejala yang ditimbulkan ada gejala awal dan gejala lanjut. Di dalam gejala klinis ini ada gejala sistemik dan gejala lokal. Nah gejala sistemik hampir sama dengan penyakit infeksi yang lain.

“Rasa panas ataupun demam, rasa tidak enak badan, berkeringat malam, penurunan nafsu makan, dan sebagainya,” ujarnya.

Gejala lokal misalnya ada batuk, baik batuk berlendir, batuk berdahak, ada darah maupun tidak ada darah. Nyeri pada saat batuk, nyeri darah pada saat batuk, bahkan bisa sampai dengan kesan nafas.

“Tentu saja kita akan mencurigai pasien ini berdasarkan hal yang tadi gejala tadi dan ditambah pemeriksaan penunjang. Misalnya fotoronsen, fotodada, dan pemeriksaan lender,”ucapnya.

Dikatakan dokter, pengobatan tuberkulosis paruh harus dipahami merupakan pengobatan jangka panjang, kurang lebih 6 bulan. Sehingga dituntut disiplin dan komitmen pasien dan keluarga, dukungan keluarga sangat penting.

Satu hingga dua bulan pertama pasien akan merasa lebih baik, yang dulunya terjadi penurunan berat badan akan naik, batuknya akan berkurang. Tetapi pada saat seperti ini justru sebagian pasien akan menghentikan pengobatan.

Dokter Apri menyarankan agar tidak menghentikan pengobatan, karena pada saat menghentikan pengobatan penyakitnya akan kambuh kembali dan berisiko terhadap obat, kuman menjadi kebal terhadap obat.

Sehingga akan memerlukan pengobatan dengan jangka waktu lebih panjang dan penambahan dalam jenis obat. Oleh sebab itu sangat penting dukungan semua orang. Baik tenaga medis, pasien itu sendiri, dan keluarga untuk memantau bagaimana pengobatan pada pasien itu sendiri.

“Apa saja komplikasi yang terjadi. Berbagai komplikasi bisa ditemukan pada TB paruh yang tidak diobati dengan baik, Misalnya adanya cairan di dalam paruh atau efusi pleura, terjadi pembentukan jaringan paruh atau jaringan ikat, sehingga paruhnya mengeras, bahkan paruh-paruhnya bisa terjadi kerusakan yang lebih luas, bahkan pada kasus yang lebih berat terjadi infeksi di otak dan pasien menjadi tidak sadar,” katanya.

Atas dasar kenyataan-kenyataan ini, Dokter Apri sangat berharap kepada semua untuk memutus rantai penularan apabila ada gejala-gejala yang terjadi, segera melakukan pemeriksaan ke dokter pribadi Anda maupun ke fasilitas-fasilitas kesehatan. (Ac)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....