Pembina Kreatif Kunci Kemajuan Pramuka Sangihe

  • 13 Agt 2026 03:01 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna - Perkembangan Gerakan Pramuka di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sangat ditentukan oleh kreativitas dan keaktifan para pembina di setiap gugus depan. Pembina yang aktif dan inovatif dinilai mampu mendorong anggota Pramuka menjadi lebih kreatif dalam mengikuti berbagai kegiatan.

Pembina Pramuka Kwarcab Sangihe Sulawesi Utara, Jaya Silangen, mengatakan keberadaan pembina memiliki peran penting dalam menghidupkan kegiatan kepramukaan. Menurutnya, ketika pembina aktif, maka anak-anak juga akan terdorong untuk aktif, sementara pembina yang tidak bergerak akan berdampak pada kegiatan Pramuka yang ikut pasif.

Hal tersebut disampaikan Jaya Silangen dalam Dialog Interaktif Pro 1 RRI Tahuna, Selasa 11 Agustus 2026. Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara Pramuka, kepramukaan, dan Gerakan Pramuka. Pramuka merupakan anggota yang menggunakan seragam, kepramukaan adalah berbagai kegiatan yang dilaksanakan, sedangkan Gerakan Pramuka merupakan nama organisasinya.

Jaya menambahkan, kegiatan Pramuka juga menjadi bagian dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Karena itu, penguatan kegiatan di tingkat gugus depan atau gudep sangat penting untuk menciptakan pembinaan yang aktif dan berkelanjutan.

*Dalam struktur organisasi, pembinaan Pramuka di Sangihe melibatkan berbagai unsur. Bupati sebagai Kamabicab (Ketua Majelis Pembimbing Cabang), camat sebagai Mabiran (Majelis Pembimbing Ranting), sementara kepala sekolah memiliki peran sebagai Kamabigus (Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan)," ksts Jaya.

Menurut Jaya, keterlibatan Pramuka juga memiliki nilai sosial karena kegiatan kepramukaan dapat menjadi wadah pembinaan keterampilan bagi anak-anak, termasuk mereka yang tidak lagi bersekolah. Kegiatan di gugus depan dapat menjadi ruang untuk belajar keterampilan, membangun kemandirian, serta mengembangkan kepercayaan diri.

"Pola kegiatan Pramuka saat ini berbeda dengan era 1990-an hingga sekitar tahun 2001. Pada masa itu, peserta kegiatan terbiasa membawa beras dan bahan makanan sendiri, kemudian memasak secara bersama-sama. Pola tersebut secara tidak langsung melatih kemandirian dan keterampilan peserta, berbeda dengan kondisi sekarang yang kegiatan peserta lebih banyak didukung makanan siap saji," ucap Jaya.(Azizah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....