Penulis Muda Ardiansyah Angkat Diksi Jalanan dalam Kumpulan Puisi

  • 26 Jul 2026 18:26 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Dunia literasi Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali bergairah dengan peluncuran buku ketiga karya penulis muda berbakat, Ardiansyah. Buku terbaru yang berisi kumpulan puisi ini resmi diluncurkan pada Kamis (23/7/2026) di Stand Alone Coffee, menandai babak baru kebangkitan diskursus sastra di wilayah perbatasan utara Indonesia.

Kabar peluncuran karya sastra tersebut diulas secara mendalam dalam program Sore Ceria Pro2 RRI Tahuna, Sabtu (25/7/2026). Dalam perbincangan, Ardiansyah membagikan cerita di balik penggarapan buku ketiganya yang menghadirkan warna serta pendekatan bahasa yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Berbeda dengan puisi pada umumnya yang kerap menggunakan bahasa puitis dan kaku, Ardiansyah secara sadar memilih menggunakan diksi keseharian atau yang akrab disebut sebagai bahasa jalanan. Pemilihan gaya bahasa ini bertujuan agar pesan moral dan emosional yang ingin disampaikan dapat lebih mudah diterima serta dipahami oleh berbagai kalangan pembaca.

"Kekuatan puisi itu tidak bisa diukur dari satu sudut pandang saja. Bahasa yang digunakan memang menggunakan bahasa jalanan yang akrab sehari-hari, gampang diterima dan dipahami, sehingga pembaca langsung dapat menangkap keresahan di balik bait-baitnya," ujar Ardiansyah dalam obrolan tersebut.

Meski menggunakan tajuk dan pilihan kata yang terkesan tajam, ia menegaskan bahwa isi bukunya memiliki spektrum emosi yang luas. Di balik diksi yang tampak keras, terdapat pula barisan puisi yang bernuansa lembut, bahkan berbentuk doa, yang secara utuh mewakili isi dan jiwa dari keseluruhan buku tersebut.

Acara peluncuran yang digelar beberapa hari lalu juga diwarnai dengan diskusi dan bedah buku. Meski sempat berharap hadirnya pengamat atau akademisi yang membawa teori pembanding untuk menguji kualitas karyanya, Ardiansyah mengaku bersyukur karena acara tersebut disambut dengan antusiasme tinggi serta apresiasi hangat dari para penikmat sastra setempat.

Melalui momentum peluncuran buku ini, ia berharap semangat berliterasi dan ruang dialektika sastra di Sangihe dapat terus hidup dan berkembang. Kegiatan ini sekaligus memecah keheningan setelah terakhir kali diskusi sastra berskala serupa diadakan pada akhir tahun 2023 lalu. (Julfan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....