Bijak Gunakan Smartphone, Peran Orang Tua Jadi Penentu

  • 30 Jun 2026 17:28 WIB
  •  Tahuna

RRI.CO.ID, Tahuna – Smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, termasuk yang ada di Sangihe. Perangkat ini tidak lagi sekadar digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, mencari informasi, hingga hiburan. Bagi anak-anak, smartphone bahkan telah menjadi media untuk mengikuti pembelajaran, mengembangkan kreativitas, dan berinteraksi dengan teman sebaya.

Di balik berbagai manfaat tersebut, penggunaan smartphone yang tidak terkontrol juga menyimpan sejumlah risiko. Mulai dari kecanduan bermain gim, paparan konten yang tidak sesuai usia, menurunnya konsentrasi belajar, hingga berkurangnya interaksi sosial dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Tantangan terbesar bukanlah melarang anak menggunakan smartphone, melainkan membimbing mereka agar mampu memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Dari sudut pandang orang tua, pengawasan terhadap penggunaan smartphone bukan berarti membatasi kebebasan anak. Sebaliknya, pengawasan merupakan bentuk tanggung jawab untuk melindungi mereka dari berbagai dampak negatif dunia digital. Orang tua perlu mengetahui aplikasi yang digunakan anak, membatasi waktu bermain, serta membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman bercerita tentang aktivitasnya di dunia maya.

"Bukan berarti anak tidak boleh memegang smartphone. Yang terpenting adalah bagaimana orang tua hadir mendampingi, memberikan contoh, dan membuat aturan yang disepakati bersama," ujar Yetti, salah seorang ibu rumah tangga.

Menurut Yetti, anaknya juga menggunakan smartphone dan sebisa mungkin sebagai orang tua dia mengatur waktu untuk penggunaan smartphone ini.

Sementara itu, dari sudut pandang anak, smartphone bukan hanya alat bermain. Banyak anak mengaku memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas sekolah, mencari materi pelajaran melalui internet, menonton video edukasi, hingga berkomunikasi dengan teman. Mereka berharap orang tua tidak langsung melarang penggunaan smartphone, tetapi juga memahami kebutuhan mereka di era digital.

"Saya memang suka main game, tapi juga sering pakai HP buat cari materi sekolah dan nonton video pelajaran. Kalau ada aturan pengaturan dari Mama dan Papa tentang waktu penggunaan, saya tidak keberatan," kata Vanessa , siswa salah satu SMA yang ada di Tahuna.

Membangun kepercayaan antara orang tua dan anak jauh lebih efektif dibandingkan sekadar memberikan larangan. Aturan penggunaan smartphone sebaiknya disusun bersama, misalnya menetapkan waktu khusus belajar tanpa gadget, membatasi penggunaan sebelum tidur, serta menyediakan waktu berkualitas bersama keluarga tanpa gangguan layar.

Anak-anak pada dasarnya membutuhkan pendampingan untuk memahami bahwa dunia digital memiliki manfaat sekaligus risiko. Di sisi lain, orang tua juga dituntut untuk terus meningkatkan literasi digital agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang digunakan anak.

Pada akhirnya, smartphone bukanlah musuh, melainkan alat yang dapat memberikan manfaat besar jika digunakan secara bijak. Dengan komunikasi yang baik, aturan yang jelas, dan pengawasan yang konsisten, orang tua dan anak dapat bersama-sama menciptakan kebiasaan digital yang sehat, sehingga teknologi menjadi pendukung tumbuh kembang anak, bukan sebaliknya. (Arsitini)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....