Seru dan Bahaya : Potret Main Game Anak Muda Masa Kini
- 31 Mei 2026 21:08 WIB
- Tahuna
RRI.CO.ID, Tahuna – Di era digital yang serba terhubung seperti sekarang, gawai atau ponsel pintar sudah menjadi sahabat tak terpisahkan bagi generasi muda. Di samping untuk berkomunikasi dan mencari informasi, ponsel kini lebih sering dijadikan sarana hiburan utama, khususnya untuk bermain game online. Fenomena ini pun sangat terasa di Kota Tahuna.
Bagi sebagian besar anak muda saat ini, game online bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan telah menjadi gaya hidup, tempat berkumpul, hingga ajang pembuktian diri. Namun, di balik keseruan dan kegembiraan saat bermain, terselip risiko dan bahaya yang sering kali tidak disadari jika dilakukan secara berlebihan.
Gabriela, salah satu anak muda di Tahuna yang mengaku sangat gemar bermain game online, membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai dunia yang kini sangat digandrungi teman-teman seumurannya itu. Bagi Gabriela, game adalah cara paling mudah dan murah untuk bersenang-senang sambil tetap berinteraksi dengan teman-temannya, meski mereka berada di rumah masing-masing.
“Bermain game online itu seru sekali rasanya. Di sana kita bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak teman. Kadang kami bermain satu tim, berkomunikasi lewat suara, menyusun strategi, dan berjuang bersama untuk menang. Rasanya puas kalau berhasil menaklukkan lawan atau menyelesaikan misi yang sulit. Rasanya seperti masuk ke dunia lain yang seru dan menantang,” ungkap Gabriela dengan antusias saat ditemui.
Lebih jauh lagi, Gabriela menjelaskan bahwa bagi anak muda seperti dirinya, game online juga menjadi sarana mengasah kemampuan berpikir cepat, kerja sama tim, dan melatih ketangkasan. Tidak jarang, rasa bangga muncul ketika memiliki kemampuan bermain yang baik dan diakui oleh pemain lain.
Namun, di balik semua keseruan itu, Gabriela pun mengakui ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Sebagai pemain aktif, ia merasakan sendiri bagaimana kebiasaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang merugikan jika tidak ada kendali diri yang kuat.
“Memang asyik, tapi jujur saja, ada bahayanya juga kalau kita tidak bisa mengatur waktu. Saya sendiri pernah mengalami hal itu. Mulai main hanya sebentar, tapi karena seru dan tidak ingin mengecewakan teman satu tim, tiba-tiba sudah berjam-jam berlalu. Waktu istirahat jadi berkurang, tugas sekolah atau pekerjaan jadi tertunda, dan kadang sampai lupa makan atau minum,” akunya jujur.
Dampak fisik juga mulai ia rasakan. Sering menatap layar terlalu lama membuat mata terasa perih dan pandangan kadang menjadi kabur. Posisi duduk yang diam terlalu lama juga sering memicu keluhan nyeri leher dan punggung.
Menurut pengamatan Gabriela di lingkungannya, banyak teman sebayanya yang sudah terlalu dalam terhanyut. Ada yang sampai mengorbankan waktu tidur, bolos kegiatan, hingga menjauh dari pergaulan nyata karena merasa lebih nyaman dan betah berada di dunia maya.
Meski demikian, Gabriela tidak menilai bahwa game online itu sepenuhnya buruk atau harus ditinggalkan. Baginya, kuncinya ada pada keseimbangan dan kesadaran diri masing-masing individu.
Potret yang digambarkan Gabriela ini adalah cerminan nyata dari kebiasaan anak muda masa kini. Di satu sisi, game online menjadi wadah kreativitas, hiburan, dan persahabatan baru. Namun di sisi lain, bahaya kecanduan, gangguan kesehatan, hingga penurunan produktivitas selalu mengintai.
Tantangan bagi anak muda, orang tua, dan lingkungan saat ini adalah bagaimana memposisikan teknologi dan hiburan ini pada tempat yang tepat. Seperti yang dikatakan Gabriela, keseruan dunia maya boleh dinikmati, namun masa depan dan kesehatan diri sendiri di dunia nyata tetaplah hal yang paling utama dan tidak boleh dikorbankan. (Arsitini)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....