Andai Yesus Tak Disalibkan : Sebuah Renungan Lintas Zaman

  • 19 Apr 2025 11:53 WIB
  •  Tahuna

KBRN, Tahuna; Sejarah dunia, dalam banyak cara, dibentuk oleh kisah pengorbanan. Di antara kisah-kisah itu, kematian Yesus di kayu salib menjadi pusat dari iman miliaran manusia. Namun, bayangkan sejenak, bila kisah itu tak terjadi seperti yang kita kenal. Bagaimana jika Yesus tak pernah disalibkan? Bagaimana dunia akan menulis ulang makna cinta, pengampunan, dan keselamatan?. Pertanyaan ini bukan sekadar spekulasi, tapi sebuah jendela yang mengajak kita merenungi betapa dalamnya pengaruh satu peristiwa terhadap kemanusiaan.

Tanpa penyaliban, sosok Yesus mungkin lebih dikenal sebagai guru agung, filsuf penuh welas asih, bukan sebagai Juru Selamat yang menebus dosa umat manusia. Ajarannya tetap membumi: mencintai sesama, mengampuni musuh, dan hidup dalam damai. Namun, simbol-simbol kekristenan bisa jadi berbeda, mungkin bukan salib yang menjadi lambang, melainkan pelita, roti, atau bahkan pelukan persaudaraan. Tanpa luka dan darah, pesan cinta bisa jadi lebih ringan, namun juga mungkin kehilangan kedalaman pengorbanan.

E-flayer Instagram ibadah jumat agung seluruh Gereja Mawar Sharon di Indonesia (Foto : Rico / RRI Tahuna)

Resonansi kebangkitan pun akan berubah makna. Jika Yesus tak wafat, mungkinkah kebangkitan menjadi kisah yang hanya dikenang lewat mujizat Lazarus, atau lenyap dari doktrin iman? Perayaan Paskah bisa jadi hanya sekadar kenangan akan kebersamaan, bukan selebrasi kemenangan atas maut. Tanpa narasi “Ia telah bangkit,” harapan akan hidup setelah kematian mungkin tak menyala seterang hari ini. Tapi, harapan sejati mungkin tetap hidup melalui teladan kasih yang tak pernah padam.

Perjalanan sejarah pun akan bergeser. Mungkin kekristenan menyebar lebih cepat ke Timur, menjalin simpul-simpul spiritual dengan kebijaksanaan Tiongkok atau filsafat India. Mungkin seni, sastra, dan budaya tidak didominasi oleh salib, melainkan oleh gambar-gambar damai dan kehidupan. Bahkan sosok Yudas pun bisa diingat bukan sebagai pengkhianat, tapi sebagai murid yang pernah berjalan bersama sang Guru. Dunia bisa saja menyusun ulang cerita tentang kesalahan, penebusan, dan harapan.

Namun dalam segala “andaikan” itu, satu hal tetap abadi: kekuatan kasih. Baik disalibkan atau tidak, Yesus adalah cahaya yang menuntun hati manusia menuju kebaikan. Apapun kisahnya, bentuk akhirnya akan selalu menjadi undangan untuk hidup lebih mencintai, lebih mengampuni, lebih mempercayai bahwa ada kehidupan yang lebih besar dari sekadar yang tampak. Mungkin bukan tentang bagaimana akhir kisah-Nya, tapi bagaimana Ia menghidupi setiap langkah dengan cinta yang menembus segala zaman. (Rico)

Rekomendasi Berita