Dari Rahim Kehidupan: Menyemai Harapan, Menyelamatkan Masa Depan
- 07 Apr 2025 12:00 WIB
- Tahuna
KBRN, Tahuna; Tepat di bawah langit bulan April yang cerah, dunia kembali menaruh perhatian pada sebuah titik awal kehidupan yang kerap kali luput dari sorotan: kondisi ibu dan bayi. Tahun ini, Hari Kesehatan Dunia mengangkat semangat baru lewat tema “Awal yang Sehat, Masa Depan yang Penuh Harapan.” Sebuah panggilan global untuk mengingat bahwa masa depan umat manusia dibentuk sejak napas pertama di dunia. Di balik angka-angka statistik, ada kisah perjuangan, air mata, dan harapan dari jutaan perempuan yang melahirkan generasi penerus dunia.
Di balik kemajuan teknologi dan fasilitas kesehatan, kenyataannya masih ada sekitar 300 ribu ibu yang kehilangan nyawa tiap tahun karena komplikasi saat mengandung atau melahirkan. Lebih memilukan lagi, sekitar dua juta bayi tidak sempat merasakan hangatnya pelukan ibu lebih dari sebulan sejak mereka lahir. Ini berarti setiap tujuh detik, satu kehidupan yang bisa diselamatkan justru harus berakhir. Sebuah ironi yang tak seharusnya dibiarkan terus terjadi.
Momentum Hari Kesehatan Dunia yang diperingati setiap 7 April menjadi pengingat bahwa sistem kesehatan bukan hanya soal bangunan rumah sakit atau jumlah dokter. Lebih dari itu, ini soal keberpihakan kemanusiaan, kepada ibu yang butuh pendampingan. Bukan hanya saat melahirkan, tetapi juga saat berjuang untuk pulih secara fisik dan mental. Organisasi Kesehatan Dunia mendorong agar negara-negara, termasuk Indonesia, tidak hanya memperbaiki infrastruktur tapi juga menghadirkan layanan yang menyentuh sisi emosional dan psikologis perempuan, dari masa kehamilan hingga pascapersalinan.
Di tanah air, isu ini bukan hal baru. Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menekan angka kematian ibu dan bayi melalui berbagai program dalam kerangka pembangunan nasional. Namun, jalan menuju perubahan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tapi oleh seberapa besar perhatian dan empati yang diberikan masyarakat terhadap perjuangan seorang ibu. Dalam visi besar menuju Indonesia Emas 2045, kesehatan ibu dan bayi bukan hanya indikator kesejahteraan, tetapi cermin dari kualitas kemanusiaan bangsa.
Tahun ini, seruan WHO juga menyoroti empat langkah penting: menyebarluaskan pengetahuan tentang keselamatan ibu dan bayi, mendorong kebijakan yang berpihak pada perempuan, memperkuat tenaga kesehatan yang berperan di garda depan, dan membekali orang tua dengan informasi yang tepat tentang proses kehamilan. Hari Kesehatan Dunia 2025 tidak sekadar seremoni tahunan, melainkan ajakan untuk memulai perubahan dari rumah. Dimulai dari pelukan pertama seorang ibu, hingga nafas pertama seorang anak. (Rico)