Dunia Setara, Mungkinkah Itu Terwujud?
- 09 Mar 2025 00:14 WIB
- Tahuna
KBRN, Tahuna; Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional, sebuah momentum untuk mengangkat suara perempuan di seluruh dunia dan menuntut tindakan nyata dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Perayaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan panggilan untuk mewujudkan dunia yang lebih setara dan adil bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Pada tahun 2025, dunia akan mencapai tonggak penting dalam perjalanan kesetaraan gender, yaitu 30 tahun sejak Deklarasi dan Platform Aksi Beijing disepakati oleh 189 negara pada tahun 1995. Deklarasi ini menjadi fondasi perjuangan global dalam mencapai hak yang sama bagi perempuan dan anak perempuan di berbagai aspek kehidupan. Namun, meskipun banyak kemajuan telah dicapai, dunia masih menghadapi ketidaksetaraan yang mengakar dalam berbagai sektor.
Perjalanan Menuju Kesetaraan
Kemajuan dalam hak-hak perempuan dapat dilihat dari beberapa aspek penting yang telah mengalami perubahan signifikan selama beberapa dekade terakhir. Misalnya, saat ini sebanyak 89 persen pemerintah di dunia telah menjadikan penghentian kekerasan terhadap perempuan sebagai prioritas utama, dengan 193 negara memiliki langkah hukum untuk menanganinya. Data menunjukkan bahwa negara yang memiliki undang-undang khusus tentang kekerasan dalam rumah tangga mengalami penurunan kasus kekerasan terhadap perempuan, meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Dalam sektor pendidikan, dunia telah mencapai titik yang lebih seimbang. Akses perempuan terhadap pendidikan semakin luas, dan kesenjangan gender dalam ilmu pengetahuan serta teknologi perlahan mulai teratasi. Dengan memberdayakan perempuan di bidang ini, kita tidak hanya membuka peluang lebih besar bagi mereka tetapi juga menciptakan inovasi dan teknologi yang lebih inklusif serta bermanfaat bagi seluruh umat manusia.
Di sisi lain, semakin banyak negara yang memperkuat layanan perawatan, yang sering kali menjadi tanggung jawab perempuan. Saat ini, 32 persen negara di dunia telah menerapkan kebijakan yang lebih adil dalam memberikan gaji yang layak serta kondisi kerja yang lebih baik bagi para pekerja di sektor ini. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan kesadaran global terhadap pentingnya peran perempuan dalam perekonomian dan kesejahteraan sosial.
Dalam bidang perdamaian dan keamanan, keterlibatan perempuan juga mengalami peningkatan signifikan. Tercatat bahwa 112 negara telah memiliki rencana nasional untuk melibatkan perempuan dalam proses perdamaian dan keamanan, jauh meningkat dibandingkan hanya 19 negara pada tahun 2010. Keterlibatan perempuan dalam proses ini terbukti membawa dampak positif dalam menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan dan inklusif dalam menyelesaikan konflik.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski ada kemajuan yang menggembirakan, perjuangan menuju kesetaraan masih menghadapi berbagai tantangan. Diskriminasi gender masih tertanam dalam banyak aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, politik, maupun sosial. Banyak perempuan masih menghadapi diskriminasi di tempat kerja, mendapatkan upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, serta menghadapi hambatan dalam meraih posisi kepemimpinan.
Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, isu perubahan iklim juga menjadi tantangan baru dalam kesetaraan gender. Perempuan sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak oleh bencana alam dan perubahan lingkungan, terutama di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, penting untuk mengadopsi kebijakan iklim yang responsif terhadap gender agar dampak buruknya tidak semakin memperparah ketimpangan yang ada.
Tantangan lainnya adalah akses terhadap layanan kesehatan yang masih belum merata. Di beberapa negara, perempuan masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan layanan kesehatan reproduksi yang layak. Hal ini berdampak pada kualitas hidup mereka, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental.
Langkah ke Depan
Sebagai bagian dari refleksi 30 tahun Deklarasi dan Platform Aksi Beijing, laporan Sekretaris Jenderal PBB menunjukkan bahwa meskipun banyak negara telah membuat kemajuan, masih ada kesenjangan yang perlu segera diatasi. Beberapa negara telah berhasil menerapkan kebijakan yang lebih inklusif, seperti melarang diskriminasi dalam pekerjaan dan mengadopsi kebijakan iklim yang lebih adil bagi perempuan. Namun, masih banyak ruang untuk mempercepat perubahan dan memastikan bahwa setiap perempuan di dunia mendapatkan hak yang sama tanpa terkecuali.
Untuk menjawab tantangan ini, UN Women telah berkolaborasi dengan berbagai mitra untuk meluncurkan agenda aksi "Beijing+30", sebuah inisiatif global yang mengajak semua pihak untuk berkontribusi dalam mempercepat kesetaraan gender. Agenda ini menegaskan bahwa perjuangan ini bukan hanya milik perempuan, tetapi juga seluruh masyarakat.
Kesetaraan gender bukan hanya tentang memberi hak yang sama bagi perempuan, tetapi juga menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua orang. Ketika perempuan mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan, seluruh masyarakat akan mendapatkan manfaatnya. Oleh karena itu, perjuangan ini harus terus diperjuangkan oleh semua pihak, dari individu hingga pemimpin global.
Hari Perempuan Internasional bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang aksi nyata. Setiap orang memiliki peran dalam menciptakan dunia yang lebih setara. Saatnya kita bersama-sama berjuang untuk masa depan di mana perempuan memiliki hak yang sama, suara yang didengar, dan kesempatan yang setara dalam semua aspek kehidupan. Dunia yang lebih setara bukan hanya impian, tetapi sesuatu yang dapat kita wujudkan bersama. (Missel)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....